KONTAN.CO.ID - Mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Di tengah pergerakan yang relatif terbatas di kawasan, ringgit Malaysia dan rupiah Indonesia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar.
Baca Juga: Korea Selatan Kejar Status Developed Markets MSCI, Target Rampung 2027 Melansir
Reuters berdasarkan data pukul 02.01 GMT, ringgit menguat 0,27% ke level 4,065 per dolar AS, menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia pada perdagangan hari itu. Rupiah menyusul dengan kenaikan 0,17% ke level Rp 18.050 per dolar AS, setelah pada penutupan sebelumnya berada di Rp 18.080 per dolar AS. Mata uang Asia lainnya juga mencatat penguatan tipis. Dolar Taiwan naik 0,12%, yen Jepang menguat 0,10%, sedangkan dolar Singapura dan yuan China masing-masing bertambah 0,08%.
Baca Juga: Investasi Properti China Anjlok 18% Semester I 2025, Penjualan Rumah Terus Melemah Di sisi lain, won Korea Selatan melemah 0,03%, diikuti baht Thailand yang turun 0,03% dan peso Filipina yang terkoreksi 0,06%. Rupee India bergerak stabil. Namun, jika dilihat sejak awal tahun (
year to date), sebagian besar mata uang Asia masih mencatat pelemahan terhadap dolar AS. Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan, yakni sekitar 7,65% dibandingkan posisi akhir 2025. Baht Thailand telah melemah sekitar 6,06%, rupee India turun 6,58%, peso Filipina terkoreksi 4,56%, won Korea Selatan melemah 3,45%, dan yen Jepang turun 3,34%.
Sementara itu, yuan China justru menjadi salah satu mata uang yang masih menguat terhadap dolar AS sepanjang tahun ini, dengan kenaikan sekitar 3,26%.
Baca Juga: Real Madrid Jadi Klub Tersubur dalam Sejarah Piala Dunia, Pemainnya Cetak 19 Gol Pergerakan mata uang Asia terjadi setelah dolar AS melemah menyusul data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan. Data tersebut meredakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat, sehingga mengurangi daya tarik dolar AS.