KONTAN.CO.ID - Ringgit Malaysia memimpin penguatan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Penguatan mata uang kawasan terjadi di tengah pergerakan dolar AS yang cenderung terbatas menjelang rilis data inflasi AS dan simposium Jackson Hole. Mengacu pada data Reuters pada pukul 02.05 GMT atau sekitar 09.05 WIB, ringgit Malaysia menguat 0,50% menjadi 4,024 per dolar AS dari posisi sebelumnya 4,044.
Baca Juga: Meta Dikabarkan Bahas Penyelesaian Gugatan Bahaya Media Sosial terhadap Remaja Diikuti oleh yen Jepang yang menguat 0,16% menjadi 158,91 per dolar AS. Won Korea Selatan naik 0,07% ke 1.383,10 per dolar AS, sementara dolar Taiwan menguat 0,03% menjadi 31,860 per dolar AS. Rupiah juga mencatat penguatan. Mata uang Indonesia naik 0,08% menjadi Rp17.690 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.705. Sementara itu, dolar Singapura bergerak stabil di level 1,269 per dolar AS. Rupee India juga relatif datar di 95,413 per dolar AS. Sebaliknya, baht Thailand melemah 0,06% menjadi 32,690 per dolar AS. Yuan China turun tipis 0,01% menjadi 6,721 per dolar AS, sedangkan peso Filipina melemah 0,02% ke 61,558 per dolar AS.
Baca Juga: Inflasi Australia Juli di Atas Perkiraan, Risiko Kenaikan Suku Bunga RBA Meningkat Ringgit Jadi Mata Uang Asia Terkuat Penguatan ringgit menjadi yang paling tinggi di antara mata uang Asia yang tercatat dalam perdagangan tersebut. Secara kumulatif sejak awal 2026, ringgit juga masih mencatat penguatan 0,80% terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar sejak awal tahun, yakni 4,08%, disusul yuan China yang menguat 3,98%.
Baca Juga: Dolar Bergerak Sempit Rabu (26/8) Jelang Data Inflasi AS dan Jackson Hole Dolar Singapura menguat 1,29%, sedangkan ringgit Malaysia naik 0,80% sejak akhir 2025. Di sisi lain, rupiah masih menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terlemah secara tahunan. Sejak awal 2026, rupiah telah melemah 5,77% terhadap dolar AS, lebih baik dibandingkan rupee India yang terdepresiasi 5,81%, tetapi lebih buruk dibandingkan yen Jepang yang turun 1,42%. Peso Filipina mencatat pelemahan 4,48%, sementara baht Thailand turun 3,79%.
Pergerakan mata uang Asia pada Rabu juga dipengaruhi oleh sentimen terhadap dolar AS dan perkembangan di pasar energi. Dolar AS bergerak dalam kisaran sempit menjelang rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk Juli, yang menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Baca Juga: Permohonan Visa AS Mendadak Ditunda di Seluruh Dunia, Ini Kebijakan Baru Trump Selain itu, meredanya sebagian ketegangan di Timur Tengah turut menopang sentimen risiko. Harapan pembukaan kembali Selat Hormuz membuat harga minyak turun, sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan biaya impor di negara-negara Asia.