Ringgit Menguat, Rupiah Merana: Apa Saja Isu yang Mempengaruhinya?



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar ringgit melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS kemarin, bergerak mendekati level RM 4,05 pada penutupan setelah dibuka di RM 4,06. 

Penguatan ini terjadi karena serangan berkelanjutan pemerintahan Donald Trump terhadap Federal Reserve (The Fed) menggerus kepercayaan pasar dan melemahkan dolar AS.

Mengutip The Star, pada pukul 18.00 waktu setempat, mata uang Malaysia tersebut menguat ke posisi 4,0555/0600 per dolar AS, dibandingkan penutupan Senin di level 4,0605/0660.


Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Bhd, Mohd Afzanizam Abdul Rashid, mengatakan masih ada ketidakpastian mengenai siapa yang akan menggantikan Ketua The Fed Jerome Powell pada pertengahan tahun ini. 

Namun, pasar memperkirakan ketua The Fed yang baru cenderung bersikap dovish dalam menilai kondisi perekonomian.

“Pada akhirnya, hal ini berpotensi mendorong penurunan suku bunga acuan Federal Funds Rate tahun ini,” ujarnya kepada Bernama.

Bagaimana rupiah?

Sementara itu, rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (13/1/2026).

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,13% secara harian ke Rp 16.877 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga melemah 0,13% secara harian ke Rp 16.875 per dolar AS. 

Baca Juga: Tengok Harga Emas Hari Ini di Pegadaian Rabu (14/1) Produk UBS, GALERI 24

Nilai tukar rupiah berpeluang kembali lanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini (14/1/2026).

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa mata uang Garuda sedang berada di area jenuh jual setelah sempat menyentuh rekor terlemahnya di Rp 16.877 per dolar AS pada Selasa (13/1/2026). 

“Jika sentimen global tidak kunjung mendingin, terdapat risiko psikologis di mana rupiah bisa menguji level Rp 17.000 per dolar AS, meskipun Bank Indonesia diyakini akan melakukan intervensi "triple intervention" untuk menjaga stabilitas di pasar spot dan obligasi guna meredam volatilitas yang berlebihan,” jelas Sutopo kepada Kontan, Selasa (13/1/2026). 

Sutopo menambahkan, sentimen utama yang wajib dicermati terkait pergerakan rupiah besok adalah rilis data inflasi konsumen (CPI) Amerika Serikat dan putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas kebijakan tarif ekspor-impor. Jika inflasi AS diumumkan lebih tinggi dari ekspektasi, dolar AS akan semakin perkasa karena memangkas peluang penurunan suku bunga Fed, yang otomatis menekan Rupiah. 

Selain itu, ketidakpastian geopolitik di Iran serta beban fiskal domestik akibat kenaikan belanja Makan Bergizi Gratis dan pemulihan bencana di Sumatera turut menjadi perhatian investor. 

“Setiap kabar negatif dari faktor-faktor ini bisa memicu aliran modal keluar (capital outflow) yang memberatkan posisi Rupiah,” ucap Sutopo. 

Tonton: Krisis The Fed Jerome Powell Terjerat Ancaman Dakwaan Pidana

Sutopo memproyeksikan, rupiah bergerak dalam tekanan besar dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran Rp 16.850 hingga Rp 16.920 per dolar AS pada hari ini.

Selanjutnya: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 16.870 Per Dolar AS Hari Ini (14/1), Terkuat di Asia

Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Curah Hujan Tinggi 11-20 Januari, Waspada Banjir di Provinsi Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News