KONTAN.CO.ID - Perusahaan pertambangan Anglo-Australia Rio Tinto mengumumkan pada Senin (16/3/2026) bahwa pihaknya kini menguasai lahan yang diperlukan untuk membangun tambang Resolution Copper di Arizona, Amerika Serikat (AS). Proyek ini diproyeksikan menjadi salah satu sumber tembaga terbesar di AS, namun telah menuai penolakan dari komunitas adat San Carlos Apache selama lebih dari 20 tahun. Langkah ini menandai kemungkinan berakhirnya konflik hukum yang panjang dan kompleks, di mana hak-hak keagamaan masyarakat Apache San Carlos berhadapan dengan meningkatnya permintaan tembaga untuk transisi energi dan upaya Washington mengurangi ketergantungan pada impor mineral asing.
Baca Juga: Trump Klaim Bisa Lakukan Apa Saja dengan Kuba di Tengah Ketegangan dan Krisis Energi Skema Pertukaran Lahan dan Akses Tambang Rio Tinto menyerahkan 5.400 acre (sekitar 8,4 mil persegi) lahan milik perusahaan kepada U.S. Forest Service sebagai ganti akses ke 2.400 acre yang menyimpan lebih dari 40 miliar pound (18,1 juta ton metrik) tembaga. Tembaga ini merupakan bahan penting untuk kendaraan listrik, kabel, dan perangkat elektronik. Pertukaran lahan ini disetujui setelah pengadilan banding AS menolak permintaan untuk memblokirnya dan Mahkamah Agung AS tidak mengambil langkah darurat. Rio Tinto berencana meluncurkan kampanye pengeboran senilai US$500 juta untuk mengeksplorasi deposit tembaga tersebut. Tahap ini penting untuk menentukan kapan produksi tembaga dapat dimulai. Perwakilan dan pengacara San Carlos Apache belum memberikan komentar langsung. Suku ini sejak lama menegaskan bahwa Washington tidak memiliki hak atas lahan yang ditukar dengan Rio, bahkan sempat mengajukan hak tanggungan properti pada 2021. "Proyek pertambangan yang bertanggung jawab ini sejalan dengan visi Presiden Trump tentang kemandirian mineral Amerika," ujar Menteri Pertanian AS, Brooke Rollins, yang membawahi U.S. Forest Service.
Baca Juga: Trump Frustasi, Sekutu Tolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz Penolakan Berulang dari Komunitas Apache Suku San Carlos Apache dan pendukungnya telah berjuang bertahun-tahun untuk menghentikan pertukaran lahan yang diatur Kongres pada 2014. Lokasi tambang akan menelan situs suci Oak Flat atau Chi’chil Biłdagoteel dalam bahasa Apache, tempat mereka melakukan pemujaan dan ritual keagamaan. Banyak pengadilan, termasuk Mahkamah Agung AS, berulang kali menolak permintaan mereka untuk memblokir pembangunan tambang. Presiden Trump sendiri menyatakan dukungan publik terhadap proyek ini pada Agustus 2025, menuding pihak yang menolak sebagai “Anti-Amerika dan mewakili negara pesaing tembaga lain.”
Baca Juga: AS dan Korsel Sepakat: Selat Hormuz Kunci Harga Minyak Global Investasi dan Dampak Ekonomi
Hingga saat ini, Rio Tinto dan mitra minoritasnya, BHP Group, telah menginvestasikan lebih dari US$2 miliar tanpa memproduksi tembaga. "Seiring permintaan tembaga terus meningkat, proyek seperti Resolution memainkan peran penting dalam memperkuat rantai pasok domestik," kata Katie Jackson, Kepala Bisnis Tembaga Rio Tinto. BHP, yang menguasai 45% proyek sementara Rio Tinto 55%, menambahkan bahwa Resolution “diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan ekonomi di AS, menciptakan ribuan lapangan kerja bernilai tinggi dan mendorong miliaran dolar aktivitas ekonomi di seluruh negeri.” Dengan penguasaan lahan ini, Rio Tinto siap melanjutkan tahap eksplorasi dan persiapan tambang, yang bisa menjadi tonggak penting bagi produksi tembaga strategis AS di tengah meningkatnya permintaan global untuk energi bersih dan kendaraan listrik.