Rio Tinto Incar Glencore, Merger Terbesar Industri Tambang Global?



KONTAN.CO.ID - LONDON/SYDNEY. Rio Tinto (RIO.L) tengah melakukan pembicaraan awal untuk mengakuisisi Glencore (GLEN.L), ungkap kedua perusahaan. Jika terealisasi, langkah ini berpotensi melahirkan perusahaan pertambangan terbesar di dunia dengan nilai kapitalisasi pasar gabungan mendekati US$207 miliar.

Para raksasa tambang global berlomba memperbesar skala bisnis di sektor logam, terutama tembaga yang diproyeksikan diuntungkan oleh transisi energi dan lonjakan permintaan kecerdasan buatan (AI).

Kondisi ini memicu gelombang ekspansi proyek dan upaya pengambilalihan, termasuk rencana merger Anglo American dan Teck Resources yang masih menunggu penyelesaian untuk membentuk pemain besar berfokus tembaga.


Rio Tinto dan Glencore belum mengungkap detail mengenai bentuk penggabungan, termasuk aset yang akan dimasukkan. Ini merupakan putaran pembicaraan kedua dalam kurun sedikit lebih dari setahun, setelah Glencore mendekati Rio Tinto pada akhir 2024 untuk kesepakatan yang pada akhirnya tidak berlanjut.

Kedua perusahaan menyatakan pada Kamis malam bahwa ekspektasinya melibatkan akuisisi seluruh saham (all-share buyout) atas “sebagian atau seluruh” Glencore oleh Rio Tinto.

Baca Juga: Rio Tinto Pangkas Produksi Alumina Yarwu Untuk Perpanjang Usia Pabrik

Namun, mereka tidak merinci apakah akan ada premi akuisisi atau siapa yang akan memimpin perusahaan gabungan apabila kesepakatan pertambangan terbesar sepanjang sejarah tersebut terwujud.

“Struktur potensi merger kedua perusahaan ini masih belum jelas dan kemungkinan akan kompleks. Namun kami meyakini ada jalur menuju penciptaan nilai yang signifikan bagi keduanya,” tulis analis Jefferies.

Perusahaan juga menegaskan belum ada kepastian mengenai kesepakatan atau penawaran, menyusul laporan awal Financial Times tentang hidupnya kembali pembicaraan tersebut.

Berdasarkan aturan pengambilalihan di Inggris, Rio Tinto memiliki tenggat hingga 5 Februari untuk menyampaikan penawaran resmi kepada Glencore atau menyatakan tidak melanjutkan proses.

Saham Glencore yang tercatat di AS melonjak 6% setelah pembicaraan dikonfirmasi. Sebaliknya, saham Rio Tinto yang terdaftar di Australia (RIO.AX) ditutup melemah 6,3%, mencerminkan skeptisisme investor dan kekhawatiran bahwa Rio Tinto akan membayar terlalu mahal.

“Pasar saham menunjukkan apa yang perlu Anda ketahui. Investor tidak senang dengan ini,” kata Hugh Dive, Chief Investment Officer Atlas Funds Management, yang merupakan pemegang saham Rio Tinto.

“Saya menyukai konsep fokus ke tembaga, tetapi rekam jejak akuisisi atau merger oleh pemain besar sangat buruk. Banyak merger besar terjadi di puncak siklus pasar dan akhirnya sangat dilutif dalam jangka panjang,” tambahnya.

Baca Juga: Rio Tinto Kejar Target Akhir Tahun di Tengah Lonjakan Permintaan Bijih Besi China

Rio Tinto produsen bijih besi terbesar dunia memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$142 miliar. Sementara Glencore, salah satu produsen logam dasar terbesar dunia, bernilai sekitar US$65 miliar pada penutupan terakhir.

Tembaga versus Batu Bara

Baik Rio Tinto maupun Glencore tengah mengalihkan fokus ke tembaga, komoditas yang permintaannya tinggi seiring adopsi energi ramah lingkungan dan meningkatnya penggunaan pusat data berdaya besar untuk AI.

Permintaan tembaga global diperkirakan naik 50% pada 2040. Namun, pasokan diproyeksikan defisit lebih dari 10 juta metrik ton per tahun tanpa peningkatan daur ulang dan aktivitas penambangan, menurut konsultan S&P Global.

Dengan tembaga menjadi sorotan, salah satu pertanyaan utama dalam potensi penggabungan adalah nasib aset batu bara Glencore, mengingat Rio Tinto telah melepas seluruh operasi batu baranya kepada perusahaan tambang dan pemasaran komoditas berbasis di Swiss tersebut pada 2018.

“Batu bara kemungkinan harus didivestasikan untuk mendapatkan dukungan dari basis pemegang saham Australia,” ujar John Ayoub, manajer portofolio di Wilson Asset Management, investor Rio Tinto.

Analis Allan Gray, Tim Hillier, juga menyoroti risiko harga. “Semua bergantung pada valuasi. Jika harus membayar premi besar, ada risiko transaksi ini justru merusak nilai bagi pemegang saham,” katanya. “Rio memiliki pipeline proyek internal dengan pertumbuhan tinggi. Tidak jelas mengapa mereka perlu mencari peluang eksternal,” tambah Hillier.

China, sebagai pembeli dominan logam industri, diperkirakan akan mengajukan hambatan antimonopoli, menurut analis RBC Kaan Peker.

Nilai pasar perusahaan gabungan berpotensi melampaui BHP Group Australia (BHP.AX) yang bernilai sekitar US$161 miliar. Saham BHP ditutup menguat 0,8% pada Jumat.

Pertanyaan Budaya Perusahaan

Menurut sumber yang mengetahui prosesnya, Rio Tinto dan Glencore kembali membuka pembicaraan pada akhir 2025. Sejak pendekatan Glencore pada 2024, Rio Tinto mengalami perubahan signifikan.

Baca Juga: Rio Tinto Angkat Bos Baru Divisi Bijih Besi, Restrukturisasi Jadi 3 Unit Bisnis Utama

CEO baru Rio Tinto, Simon Trott, dipilih setelah ketua perusahaan menyatakan preferensi terhadap pemimpin yang lebih terbuka pada transaksi berskala besar dibanding pendahulunya, Jakob Stausholm, yang menjabat saat Rio menolak pendekatan Glencore pada akhir 2024.

Di bawah Trottyang mulai me, njabat Agustus lalu Rio Tinto berfokus menjadi lebih ramping dengan mengurangi aset non-inti.

Andy Forster, Senior Investment Officer Argo Investments (pemegang saham Rio Tinto), menilai kesepakatan masuk akal jika syaratnya tepat bagi kedua pihak.

“Tanda tanya terbesar adalah budaya perusahaan. Glencore jelas memiliki latar belakang perdagangan yang oportunistis dan sangat berorientasi hasil. Beberapa aspek budaya tersebut justru bisa baik bagi Rio,” ujarnya.

“Saya berharap Rio tetap disiplin, tetapi masuk akal untuk meninjau kesepakatan yang memungkinkan ekstraksi nilai bagi kedua belah pihak.”

Selanjutnya: Kenaikan Dana Kelolaan Reksadana Didorong Net Subcription Rp 138,69 Triliun

Menarik Dibaca: Marty Supreme dan 6 Film Tentang Olahraga yang Bakal Bikin Semangat Membara