KONTAN.CO.ID - Raksasa tambang global Rio Tinto memperingatkan ketidakpastian dampak konflik di Timur Tengah terhadap rantai pasoknya pada paruh kedua tahun ini. Meski begitu, perusahaan mencatat kinerja penjualan bijih besi yang lebih tinggi pada kuartal I-2026, ditopang produksi yang kuat dari wilayah Pilbara. Mengutip
Reuters, saham Rio Tinto sempat naik hingga 1% ke level A$174,27 pada awal perdagangan Selasa (21/4/2026), seiring sentimen positif dari kinerja operasional. Indeks acuan pasar yang lebih luas juga menguat tipis sekitar 0,2%.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Selasa (21/4) Pagi: Brent ke US$94,53 & WTI ke US$86,37 Dalam pernyataannya, perusahaan menyebut sejauh ini dampak langsung konflik terhadap operasional masih terbatas. Bahkan, harga komoditas yang menguat turut memberikan dukungan terhadap kinerja. Namun, perusahaan tetap menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi eskalasi konflik. Di sisi lain, Rio Tinto mengakui kenaikan harga bahan bakar, khususnya diesel, telah mendorong peningkatan biaya operasional. Meski demikian, posisi biaya dinilai tetap solid berkat skala bisnis yang besar dan kekuatan jaringan rantai pasok global.
Baca Juga: Apple Tunjuk John Ternus Jadi CEO Gantikan Tim Cook, Ini Profilnya Analis dari CLSA Australia Baden Moore menilai, risiko utama pada paruh kedua tahun ini adalah potensi kelangkaan bahan bakar seperti jet fuel dan diesel. Kondisi ini dapat mengganggu operasional alat berat berbasis diesel, sekaligus membatasi mobilitas barang, jasa, dan tenaga kerja ke lokasi tambang. Meski demikian, gangguan pengiriman (
shipping) belum diperkirakan terjadi dalam waktu dekat. Dari sisi kinerja, Rio Tinto mencatat penjualan bijih besi dari operasi Pilbara sebesar 72,4 juta ton pada kuartal I yang berakhir 31 Maret 2026. Angka ini naik 2,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun masih di bawah estimasi konsensus Visible Alpha sebesar 74,6 juta ton. Produksi di Pilbara sendiri mencatat kinerja impresif, menjadi produksi kuartal I tertinggi kedua sejak 2018. Output meningkat 13% berkat peningkatan produktivitas serta minimnya gangguan cuaca.
Baca Juga: Raksasa Minimarket Negeri Jiran Mau IPO di Bursa Malaysia, Siapkan 840 Juta Saham Perusahaan juga mempertahankan target penjualan bijih besi Pilbara untuk 2026 di kisaran 323 juta hingga 338 juta ton. Selain bijih besi, produksi tembaga juga menunjukkan peningkatan. Output tembaga tambang mencapai 229.000 ton pada kuartal I, naik dari 210.000 ton pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terutama didorong oleh kinerja kuat dari proyek Oyu Tolgoi di Mongolia. Sebelumnya, Rio Tinto juga sempat menolak pendekatan dari Glencore untuk membentuk perusahaan tambang terbesar di dunia, menegaskan fokusnya pada strategi pertumbuhan organik dan efisiensi operasional.