KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan industri dompet digital atau
e-wallet di Indonesia semakin bertumpu pada kemudahan transaksi, efisiensi biaya, dan penawaran promosi. Penggunaan QRIS menjadi salah satu pendorong utama adopsi layanan pembayaran digital, seiring meningkatnya kebutuhan transaksi praktis di kalangan konsumen. Riset MarkPlus bertajuk
E-Wallet Research 2026: Usage Behavior & QRIS Landscape mencatat, sebanyak 85,3% responden menggunakan dompet digital untuk pembayaran melalui QRIS. Sementara itu, 77,3% responden memanfaatkan dompet digital untuk transfer uang ke rekening bank maupun sesama dompet digital. Riset yang melibatkan 400 responden di berbagai kota di Indonesia tersebut juga menunjukkan ShopeePay menempati posisi pertama sebagai dompet digital yang paling sering digunakan, dengan persentase 40%. Posisi berikutnya ditempati GoPay sebesar 34,3%, DANA 15,3%, dan OVO 1,8%.
Baca Juga: Kementerian ESDM Siapkan Roadmap Mandatori Bioetanol E10 pada 2027 Chief Marketing Officer MarkPlus Corp (MCorp) Yosanova Savitry mengatakan, preferensi konsumen terhadap dompet digital kini tidak hanya ditentukan oleh kecepatan transaksi, tetapi juga fleksibilitas layanan dan manfaat finansial yang diperoleh pengguna. “Bagi para penyedia dompet digital, memahami perubahan preferensi tersebut dan secara konsisten menghadirkan pengalaman transaksi yang relevan, mudah diakses, dan menguntungkan menjadi kunci untuk tetap kompetitif sekaligus membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen,” ujar Yosanova dalam konferensi pers MCorp Industry Update, Jumat (23/10/2026). Dalam penggunaan QRIS, ShopeePay juga mencatat posisi teratas sebagai merek yang pertama kali terlintas di benak responden atau
top of mind, dengan persentase 37,7%. GoPay menyusul sebesar 35,5% dan DANA 17,8%. Adapun di antara responden yang sering menggunakan QRIS, ShopeePay menjadi dompet digital yang paling sering digunakan untuk transaksi tersebut, dengan persentase 40,5%. GoPay mencatat 32,6% dan DANA 16,1%. Dari sisi preferensi konsumen, kemudahan dan kecepatan transaksi menjadi pertimbangan utama dalam memilih dompet digital untuk QRIS, dengan persentase 80,8%. Faktor lainnya adalah luasnya jaringan
merchant sebesar 54,4% serta promosi dan cashback sebesar 51,3%. Yosanova menambahkan, sebanyak 30% responden yang sering menggunakan QRIS mempertimbangkan ketersediaan berbagai pilihan sumber dana saat memilih dompet digital. Kondisi ini membuka peluang bagi penyedia layanan untuk memperluas fleksibilitas pembayaran tanpa mengurangi kemudahan transaksi.
Baca Juga: Revisi Perpres Impor Minyak Mentah Beres, Kementerian ESDM: Tekankan Keterlibatan BLU Selain QRIS, transfer dana juga menjadi salah satu layanan yang banyak digunakan. Riset MarkPlus mencatat, ShopeePay memperoleh persentase penggunaan tertinggi untuk transaksi transfer, yakni 41,8%, diikuti GoPay 33,7% dan DANA 17,7%. Sementara itu, untuk pembelian produk digital seperti pulsa, paket data, dan token listrik, sebanyak 69% responden menggunakan dompet digital. Harga kompetitif menjadi salah satu pertimbangan utama, dengan persentase 65,6%. Pada kategori ini, ShopeePay mencatat persentase penggunaan sebesar 39,5%. Persaingan juga berlangsung melalui penawaran promosi. Sebanyak 56,8% responden menilai ShopeePay sebagai dompet digital yang paling banyak menawarkan promosi, disusul GoPay 33,5%, DANA 4,8%, dan OVO 2%.
Menurut Yosanova, promosi tetap berperan dalam menarik minat konsumen. Namun, penyedia layanan perlu memastikan penawaran yang diberikan relevan dengan kebutuhan transaksi sehari-hari agar dapat mendorong penggunaan secara berkelanjutan. Riset tersebut turut memetakan penggunaan kredit digital. Sebanyak 86,5% responden menyatakan pernah menggunakan fitur kredit digital, sedangkan 90,8% dari kelompok tersebut pernah menggunakan layanan
PayLater. Di antara pengguna PayLater, SPayLater mencatat persentase penggunaan tertinggi sebesar 77,4%. Secara keseluruhan, hasil riset ini menunjukkan bahwa persaingan layanan keuangan digital tidak hanya bertumpu pada akuisisi pengguna baru, tetapi juga pada kemampuan penyedia layanan mempertahankan penggunaan melalui kemudahan transaksi, biaya yang kompetitif, fleksibilitas pembayaran, dan promosi yang relevan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News