KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Riset PwC melaporkan sebanyak 96% pengguna harian artificial intelligence (AI) generatif/generative AI (GenAI) di Indonesia melaporkan produktivitas yang meningkat. Hasil riset bertajuk PwC’s Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 tersebut juga mengungkap, di Indonesia, 82% pengguna harian GenAI merasa lebih aman dalam pekerjaan mereka, serta 72% pengguna sudah melihat kenaikan gaji. PwC Global Workforce Leader, Pete Brown mengatakan, untuk benar-benar memperluas manfaat GenAI ini, perusahaan perlu melakukan lebih dari sekadar memberi pelatihan.
Menurut Pete, cara kerja perlu diperbarui, serta cara manusia bekerja bersama mesin juga harus didefinisikan ulang. "Keberhasilan langkah ini akan menentukan apakah GenAI bisa menjadi motor pertumbuhan dan inklusi, atau malah menjadi peluang yang hilang," katanya dalam siaran pers, Senin (23/2/2026).
Baca Juga: PwC Survei 2025: 63% Bisnis Keluarga di Indonesia Tertekan Volatilitas Ekonomi Lebih lanjut, hasil survei yang turut melibatkan 812 responden dari Indonesia itu menunjukkan, tingkat adopsi AI di Indonesia cukup tinggi. Sebanyak 69% pekerja menyatakan telah menggunakan AI untuk pekerjaannya dalam setahun terakhir. Namun, penggunaan hariannya justru sedikit menurun, dengan hanya 16% pekerja yang memakai GenAI setiap hari dan 8% yang menggunakan agentic AI (AI agentik) secara harian. Di lain sisi, perubahan-perubahan yang terjadi termasuk perubahan regulasi dan teknologi dinilai akan memengaruhi masa depan dunia kerja. PwC Consulting Indonesia Workforce Transformation Leader, Lita Dewi menambahkan, di Indonesia, hampir setengah dari pekerja yang disurvei (49%) memperkirakan perubahan regulasi akan berdampak besar, dan 45% memprediksi transformasi teknologi, bahkan naik menjadi 74% di kalangan pengguna GenAI harian. "Ini menunjukkan bahwa mereka yang sudah mengadopsi AI cenderung lebih siap menghadapi perubahan ke depan. Sementara itu, 44% pekerja juga percaya bahwa konflik geopolitik dan perubahan preferensi pelanggan akan memengaruhi pekerjaan mereka dalam tiga tahun mendatang," papar Lita.
Baca Juga: Indosat Hadang 2 Miliar Ancaman Spam dan Scam, Lindungi Pelanggan Lewat Teknologi AI Ia menambahkan, banyak perusahaan mulai berinvestasi untuk meningkatkan keterampilan karyawannya. Di Indonesia, sebanyak 64% pekerja non-manajer mengatakan mereka punya akses pada sumber daya pembelajaran yang dibutuhkan. Hal ini juga dirasakan 78% pekerja di level manajer dan 89% di level eksekutif senior. Menurut Lita, para pemimpin perusahaan sat ini punya peluang besar untuk membentuk perusahaan yang bukan melampaui ekspektasi tenaga kerja. Terutama, dengan memaksimalkan potensi transformasi AI agar benar-benar siap menghadapi masa depan. “Perjalanan ini dimulai dengan menutup kesenjangan kekuatan AI. Ini membutuhkan strategi tenaga kerja yang jelas, kemampuan yang tepat, dan pembaruan mendasar pada struktur organisasi serta cara kerja," jelas dia. Perusahaan, lanjutnya, juga perlu memperluas mobilitas karier dengan membangun jalur karier yang lebih transparan dan dinamis, memudahkan perpindahan lintas peran, level, maupun lokasi, serta menanamkan budaya belajar jangka panjang pada pekerja. "Selain itu, penting juga untuk menumbuhkan lingkungan kerja yang aman secara psikologis. Dengan menciptakan budaya kerja yang inklusif dan suportif, organisasi dapat membuka potensi penuh dari pekerja mereka dan mendorong inovasi berkelanjutan di era AI," pungkas Lita.
Baca Juga: Tingkatkan Daya Saing Talenta Digital Lokal, PwC Consulting Buka Kantor di Yogyakarta Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News