KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Platform pinjaman daring berizin AdaKami berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional sepanjang 2024. Riset LPEM FEB UI menunjukkan pendanaan yang disalurkan platform tersebut memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp 6,95 triliun hingga Rp 10,96 triliun melalui efek berganda lintas sektor. Kontribusi itu setara dengan nilai PDB negara kepulauan Tonga pada 2024 yang mencapai Rp 9,38 triliun. Dampak ekonomi muncul dari perputaran dana di berbagai sektor, mulai dari jasa keuangan, perdagangan, hingga pendidikan.
Baca Juga: Investasi KEK Capai Rp 335 Triliun, Serap 248 Ribu Tenaga Kerja Riset ini disusun berdasarkan survei primer terhadap 615 pengguna AdaKami di tujuh provinsi dengan basis pengguna terbesar. Pengumpulan data dilakukan pada Oktober–November 2025 melalui wawancara langsung dan pengisian mandiri. LPEM FEB UI mencatat, aktivitas ekonomi yang dipicu pendanaan AdaKami memberi nilai tambah pada 185 sektor. Tiga sektor dengan dampak terbesar adalah jasa lembaga keuangan lain (21,34%), jasa pendidikan pemerintah (10,03%), serta perdagangan selain mobil dan sepeda motor (9,30%). Selain mendorong PDB, penyaluran pinjaman juga membuka peluang kerja bagi sekitar 47.000 hingga 78.000 orang di 17 sektor industri. Penyerapan tenaga kerja terbesar terjadi di perdagangan besar dan eceran (19,84%), jasa pendidikan (18,63%), serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (15,11%).
Baca Juga: Menteri Rosan: Realisasi Investasi Sepanjang 2025 Sudah Serap 2,71 Juta Tenaga Kerja Wakil Kepala LPEM FEB UI Mohamad Dian Revindo menjelaskan, efek berganda terjadi melalui penguatan sisi permintaan. “Pembiayaan mendorong konsumsi rumah tangga dan menggerakkan berbagai sektor ekonomi,” ujarnya. Pada level rumah tangga, riset menemukan pendanaan AdaKami berfungsi sebagai bantalan keuangan bagi pengguna yang menghadapi guncangan mendadak, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan medis. Tanpa akses pindar, sekitar 24,51% responden mengaku harus menguras tabungan atau menjual aset. Pengguna AdaKami tercatat memiliki rata-rata pengeluaran Rp 4,8 juta per bulan dan kemampuan menabung hampir Rp 700.000 per bulan, lebih tinggi dibandingkan kelompok pembanding, termasuk pengguna pinjaman informal.
Baca Juga: Hingga September 2025, Serapan Tenaga Kerja Capai 2 Juta Orang Pendanaan juga dimanfaatkan pelaku usaha mikro. Sebanyak 53,1% pengguna menggunakan pinjaman untuk menambah stok, sementara 28,1% mencatat peningkatan omzet. Sektor utama yang memanfaatkan pembiayaan meliputi perdagangan (53,1%), akomodasi dan makan minum (18,8%), serta pertanian (18,8%). Riset ini turut menyoroti pentingnya penguatan ekosistem pinjaman daring yang sehat.
LPEM FEB UI menemukan potensi risiko perilaku pada sebagian pengguna, seperti terlalu optimistis terhadap kemampuan bayar. Karena itu, transparansi produk dan edukasi keuangan dinilai krusial agar keputusan pinjaman lebih terukur. Secara keseluruhan, studi ini menegaskan peran pindar berizin seperti AdaKami sebagai bagian dari ekosistem keuangan formal yang tidak hanya menyediakan pembiayaan jangka pendek, tetapi juga mendukung ketahanan rumah tangga, aktivitas usaha produktif, dan pertumbuhan ekonomi nasional. Sumber:
https://money.kompas.com/read/2026/02/26/100100626/lebih-dari-sekadar-pinjaman-riset-lpem-feb-ui-buktikan-pendanaan-adakami?page=all. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News