Risiko beban produksi Intikeramik tinggi



JAKARTA. PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk sementara waktu boleh berlega hati. Produsen keramik merek Essenza ini mampu memperbaiki rapor merah dengan mencatat laba Rp 292,6 miliar di kuartal I-2014. Melesat dibandingkan kuartal I-2013 yang merugi Rp 6,81 miliar.

Kinerja bottom line yang positif ini didukung pertumbuhan penjualan 50,12% menjadi Rp 73,95 miliar. Selain itu, beberapa pos beban usaha dan beban lain-lain juga mengalami penyusutan. Sebut saja beban umum dan administrasi yang di kuartal I-2013 sebesar Rp 6,05 miliar menjadi Rp 4,46 miliar tahun ini.

Tak kalah penting, pos laba atau rugi kurs yang juga menguntungkan perusahaan. Pos ini tahun lalu tercatat rugi Rp 299,79 juta, tapi di kuartal I tahun ini laba Rp 5,01 miliar.


Vincentius An Eng, Sekretaris Perusahaan Intikeramik Alamasri Industri mengatakan, kinerja positif perusahaan didukung permintaan keramik di pasar dalam negeri yang besar. "Sebanyak 90% diserap pasar domestik," kata dia kepada KONTAN, Jumat (2/5). Sementara sisanya dilempar ke Korea Selatan, Asia Timur, Timur Tengah dan Amerika Serikat (AS).

Selama kuartal I-2014, perusahaan berkode IKAI di Bursa Efek Indonesia ini memproduksi 240.000 meter persegi (m²) - 250.000 m² keramik per bulan. Jadi, total produksi 720.000 m² - 750.000 m².

Meski sebagian besar pos dalam laporan laba-rugi perusahaan kuartal I tahun ini positif, bukan berarti Intikeramik tak berpeluang kembali terjerembab. Sekadar mengingatkan, tak hanya di kuartal I-2013 perusahaan menyandang kerugian. Paling tidak, di dua laporan tahunan terakhir, kinerja Intikeramik juga memerah. Jika di 2013 perusahaan merugi Rp 43,09 miliar, maka di tahun 2012, Intikeramik merugi Rp 39,68 miliar.

Vincentius pun mengungkapkan dua tantangan bisnis yang masih menghantui perusahaan tahun ini. Pertama, gas alam sebagai bahan bahan baku produksi. Meski Indonesia memiliki sumber gas alam melimpah, nyatanya suplai gas alam tak maksimal. Selain itu, perusahaan juga mesti berbelanja gas alam dalam denominasi dollar AS.

Dalam tren pelemahan rupiah sementara mayoritas penjualan perusahaan adalah pasar dalam negeri, pembelanjaan dalam dollar AS, tentu menjadi pil pahit bagi perusahaan seperti Intikeramik.

Kedua, kenaikan tarif dasar listrik (TDL). "Kami sedang menghitung kenaikan tambahan beban produksi terkait produksi di jam-jam yang termasuk beban puncak," terang Vincentius.

Meski begitu, perusahaan ini tak kurang optimistis mengejar pertumbuhan penjualan tahun ini. Tahun ini, Intikeramik berharap mencetak penjualan Rp 310 miliar.

Cara perusahaan dengan menggenjot produksi 3 juta m². Target produksi ini sejatinya belum optimal mengingat kapasitas produksi pabrik perusahaan di Tangerang, Banten adalah sebesar 6,6 juta m².

Untuk mendukung kinerja, perusahaan ini membekali diri dengan belanja modal Rp 10 miliar. Intikeramik akan menggunakan dana ini untuk memperbaiki dan mengganti mesin produksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina