Risiko Ebola Bayangi Piala Dunia 2026, Pemeriksaan Diperketat



KONTAN.CO.ID - JOHANNESBURG. Risiko penyebaran Ebola terhadap para penggemar sepak bola yang menghadiri Piala Dunia 2026 dinilai rendah. Namun, peningkatan pemeriksaan kesehatan dan pembatasan perjalanan berpotensi menimbulkan tantangan logistik selama turnamen berlangsung.

Hal tersebut disampaikan Dr. Oliver Johnson, akademisi kesehatan global dari King's College London, di tengah meningkatnya perhatian terhadap wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DR Congo).

Piala Dunia 2026 yang diperluas menjadi 48 tim akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.


Sementara itu, wabah Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo telah mencatat sekitar 600 kasus dugaan dan lebih dari 130 kematian. Situasi tersebut mendorong World Health Organization (WHO) menetapkan status darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.

Kondisi tersebut juga mulai memengaruhi persiapan tim nasional DR Congo menuju Piala Dunia. Tim membatalkan sejumlah agenda pra-turnamen di Kinshasa dan memindahkan sebagian persiapan ke Belgia.

Baca Juga: Trump Tambah 5.000 Tentara AS ke Polandia, NATO Kian Tertekan soal Perang Iran

Pemerintah AS juga melarang masuk pemegang paspor non-AS yang dalam 21 hari terakhir pernah berada di DR Congo, Uganda, atau Sudan Selatan. Kebijakan itu membuat staf berbasis di Kongo harus berangkat lebih awal.

Skuad DR Congo dijadwalkan tiba di AS pada 10 atau 11 Juni dan akan bermarkas di Houston.

“Jika Anda adalah pengunjung biasa yang datang ke Piala Dunia dari berbagai negara, saya pikir risikonya sangat rendah untuk tertular Ebola,” kata Johnson kepada Reuters.

“Ia menambahkan, “Ebola sejauh ini hampir tidak pernah menyebabkan penularan di negara berpendapatan tinggi, meskipun pernah ada beberapa kasus yang sangat jarang.”

Menurut Johnson, hal itu terjadi karena Ebola bukan penyakit yang menular melalui udara.

“Anda biasanya harus melakukan kontak langsung dengan seseorang yang sudah sangat sakit, dan biasanya pelacakan kontak dilakukan dengan baik. Jika ada kasus muncul, maka akan cepat teridentifikasi,” ujarnya.

Meski demikian, Johnson menilai wabah tersebut tetap dapat menimbulkan dampak lebih luas terhadap penyelenggaraan turnamen.

Otoritas AS telah menerapkan pemeriksaan tambahan terhadap pelancong yang tiba di Bandara Washington Dulles dan sebelumnya berada di negara-negara terdampak. Di saat yang sama, lembaga kesehatan bekerja sama dengan FIFA dan otoritas lokal untuk mengelola potensi risiko.

Baca Juga: China Batasi Ekspor Tiga Bahan Kimia ke AS, Kanada, dan Meksiko

“Hal ini akan memengaruhi antrean bandara dan proses pemeriksaan, yang akan memperlambat aktivitas,” kata Johnson.

Ia menambahkan, “Situasi ini akan menambah tekanan dan membutuhkan biaya tambahan bagi AS untuk mengatur semuanya.”

Johnson juga mengingatkan potensi risiko apabila wabah meluas keluar DR Congo.

“Saya pikir kemungkinan lain adalah kita berharap wabah ini tidak menyebar ke luar DR Congo. Jika itu terjadi, bisa muncul dampak lanjutan berupa larangan perjalanan atau pemeriksaan tambahan, dan hal tersebut bisa diterapkan secara mendadak,” ujarnya.

Johnson mengimbau para penggemar yang bepergian ke Piala Dunia untuk tetap menerapkan langkah pencegahan dasar seperti menjaga kebersihan tangan dan menghindari kontak dekat saat sedang sakit.

Ia juga meminta para pendukung sepak bola untuk menghormati sesama dan menghindari stigma agar semangat inklusif Piala Dunia tetap terjaga.

DR Congo akan memulai laga perdana melawan Portugal di Houston sebelum menghadapi Kolombia di Guadalajara dan Uzbekistan di Atlanta.