Risiko Gagal Bayar Utang Negara Berkembang Naik



KONTAN.CO.ID - LONDON. Bank Dunia memperingatkan negara berkembang agar memacu ekonominya tumbuh lebih cepat. Ini supaya negara berkembang tidak menghadapi masalah pembayaran utang, di tengah kenaikan biaya bunga. 

Bank Dunia mengungkapkan hal tersebut seiring dengan penerbitan global bond negara-negara berkembang yang tembus rekor tertinggi sepanjang masa di Januari lalu, mencapai US$ 47 miliar, atau setara Rp 733,20 triliun. 

Negara-negara berkembang dengan fundamental oke, seperti Arab Saudi, Meksiko dan Rumania, tercatat menerbitkan obligasi. Namun, beberapa negara berkembang berisiko tinggi juga menerbitkan obligasi dengan bunga tinggi. 


Baru-baru ini, Kenya menawarkan obligasi global dengan bunga lebih dari 10%. Para pakar kerap menilai bunga sebesar itu akan sulit dibayarkan. "Dalam hal utang, situasi telah berubah secara dramatis. Negara-negara berkembang perlu mendorong ekonomi tumbuh lebih cepat," kata Ayhan Kose, Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia, seperti ditulis Reuters, Kamis (22/2). 

Baca Juga: Meski Jepang Resesi, Pemerintah Masih Buka Opsi Penerbitan Samurai Bond

Data Institute of International Finance (IIF) menunjukkan, tingkat utang global menyentuh rekor pada 2023, yaitu sebesar US$ 313 triliun. Rasio utang terhadap PDB negara-negara berkembang juga naik ke level puncak. 

Rasio ini menunjukkan kemampuan suatu negara membayar kembali utang. Rasio utang terhadap PDB ini diprediksi berpotensi meningkat lebih besar lagi ke depan.

Dalam laporan prospek ekonomi global pada Januari lalu, Bank Dunia memperkirakan perekonomian global periode 2020-2024 akan berada pada laju terlambat dalam 30 tahun, sekalipun resesi bisa dihindari. 

Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan melambat selama tiga tahun berturut-turut jadi 2,% pada 2024. Lalu meningkat jadi 2,7% pada 2025. Angka ini jauh di bawah rata-rata pertumbuhan 3,1% pada kisaran 2010.

Perlambatan pertumbuhan negara-negara berkembang akan akut karena kebanyak belum pulih dari pandemi Covid-19. Pendapatan per kapita saat ini juga berada di bawah realisasi pada 2019.

Baca Juga: Investor Asing Berburu Cuan Obligasi di India

Kose melihat negara-negara berkembang tersebut akan sulit untuk mencapai tujuan di bidang pendidikan, kesehatan dan iklim yang dirancang. Konflik di Timur Tengah juga turut meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.

Jika pertumbuhan tetap rendah, kata Kose, beberapa negara berkembang kemungkinan harus merestrukturisasi utangnya. "Cepat atau lambat, negara perlu merestrukturisasi utang dan membuat kerangka kerja," ujarnya.    

Editor: Dina Hutauruk