KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Risiko investasi Indonesia menunjukkan tren peningkatan sepanjang tahun ini. Hal tersebut tercermin dari level credit default swap (CDS) tenor lima tahun Indonesia yang mencapai 93,25 basis poin (bps) atau meningkat 35,35% secara
year to date (ytd) hingga 13 Juni 2026. Kenaikan CDS tersebut menjadi indikator bahwa persepsi risiko terhadap aset Indonesia mulai meningkat di mata investor global. Meski demikian, para ekonom menilai kondisi tersebut belum mencerminkan situasi krisis, melainkan menjadi sinyal agar investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai level CDS saat ini masih menunjukkan profil risiko Indonesia yang terkendali, meski sudah memasuki area yang perlu diwaspadai.
“Jadi, kesimpulannya bukan bahwa Indonesia sudah berisiko tinggi, melainkan risiko Indonesia sedang naik dan pasar mulai lebih selektif,” ujar Josua kepada Kontan, Jumat (12/6/2026). Menurut Josua, angka CDS yang masih berada di bawah level 100 bps dan jauh dari titik tekanan ekstrem menunjukkan Indonesia belum berada dalam kondisi krisis. Namun, arah pergerakannya mengindikasikan bahwa investor mulai meminta premi perlindungan risiko yang lebih tinggi untuk memegang aset Indonesia.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp 10 Triliun Saat IHSG Rebound, Cek Saham yang Banyak Dijual Sepekan Pelemahan Rupiah dan Risiko Fiskal Jadi Sorotan
Josua menjelaskan kenaikan persepsi risiko tersebut terjadi seiring pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), tekanan di pasar saham, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah. Pelemahan rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat membuat investor asing lebih berhati-hati karena potensi keuntungan dari investasi obligasi maupun saham dapat tergerus oleh depresiasi nilai tukar. Selain itu, risiko fiskal juga mendorong pasar meminta imbal hasil yang lebih tinggi, khususnya pada SBN tenor panjang. Oleh sebab itu, Josua menilai posisi CDS saat ini lebih tepat disebut sebagai peringatan dini dibandingkan sinyal bahaya.
Masih Jauh dari Level Krisis
Guru Besar Universitas Indonesia, Budi Frensidy, juga menilai kenaikan CDS menunjukkan persepsi risiko Indonesia memang meningkat dibandingkan kondisi normal beberapa tahun terakhir. Namun, level tersebut masih jauh dari kondisi yang identik dengan tekanan serius. “Sebagai perbandingan, saat pandemi CDS Indonesia sempat menembus 300 bps. Jadi, pasar masih menilai Indonesia sebagai negara yang layak investasi, meskipun premi risiko yang diminta investor kini lebih tinggi daripada sebelumnya,” jelas Budi. Ia menambahkan, dalam jangka pendek pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan akibat pelemahan rupiah, tingginya imbal hasil obligasi, serta meningkatnya kehati-hatian investor asing. Di sisi lain, koreksi yang terjadi di pasar justru membuat valuasi saham maupun obligasi menjadi semakin menarik bagi investor dengan orientasi jangka panjang. “Dengan kata lain, risiko meningkat, tetapi potensi imbal hasil yang ditawarkan juga mulai membesar,” kata Budi.
Pasar Saham Murah, tetapi Kepercayaan Investor Masih Lemah
Senior Portfolio Manager Manulife Aset Manajemen Indonesia, Caroline Rusli, menilai valuasi pasar saham Indonesia saat ini sudah sangat menarik. Namun, harga yang murah belum cukup menjadi alasan bagi investor asing untuk kembali masuk secara agresif. Menurut Caroline, kondisi tersebut dipengaruhi oleh rendahnya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah serta minimnya katalis jangka pendek yang mampu meningkatkan optimisme pasar. “Indonesia saat ini berada pada fase selective value, mengedepankan strategi defensif, dan identifikasi melalui pendekatan bottom-up pada saham dan sektor pilihan menjadi sangat krusial,” kata Caroline.
Baca Juga: Dolar AS Berpotensi Menguat Pekan Depan, Harga Minyak Berisiko Terkoreksi Instrumen Pasar Uang dan SBN Pendek Dinilai Paling Menarik
Mengenai prospek investasi ke depan, Josua menilai peluang di pasar keuangan Indonesia masih terbuka, tetapi memerlukan pendekatan yang lebih selektif dibandingkan periode normal. Pada instrumen obligasi negara, tingginya imbal hasil mulai menarik terutama untuk tenor pendek hingga menengah. Sebaliknya, SBN tenor panjang masih menghadapi risiko yang lebih besar karena sensitif terhadap inflasi, pergerakan rupiah, harga minyak, dan kebutuhan pembiayaan pemerintah. Sementara di pasar saham, sejumlah emiten telah diperdagangkan dengan valuasi yang lebih murah setelah mengalami koreksi signifikan. Namun, investor asing masih menunggu kepastian bahwa tekanan terhadap rupiah, risiko kebijakan, dan ketidakpastian fiskal benar-benar mereda. “Instrumen yang paling menarik dalam kondisi saat ini adalah instrumen pasar uang, deposito rupiah yang aman, SRBI, dan SBN tenor pendek,” ucap Josua. Ia menambahkan instrumen tersebut menawarkan imbal hasil yang relatif menarik dengan risiko harga yang lebih rendah. Bagi investor dengan profil risiko lebih tinggi, akumulasi bertahap pada SBN tenor menengah dan saham berfundamental kuat dapat menjadi pilihan, khususnya emiten yang memiliki arus kas kuat, utang valas rendah, pendapatan berbasis dolar AS, atau bergerak di sektor yang diuntungkan oleh ekspor dan komoditas. Namun, Josua menekankan bahwa strategi pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak sekaligus.
Faktor yang Perlu Dicermati Investor
Menurut Josua, sejumlah faktor global yang akan memengaruhi risiko investasi Indonesia ke depan meliputi arah suku bunga Amerika Serikat, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, harga minyak dunia, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arus modal asing, cadangan devisa, neraca perdagangan, hingga pergerakan nilai tukar rupiah. Dari sisi domestik, perhatian investor akan tertuju pada disiplin pengelolaan APBN, kebutuhan penerbitan SBN, kebijakan Bank Indonesia, kejelasan aturan devisa hasil ekspor, tata kelola Danantara, potensi perubahan prospek peringkat utang, serta komunikasi pemerintah kepada pelaku pasar. “Jika faktor-faktor ini membaik, CDS bisa turun dan aset Indonesia kembali menarik. Jika memburuk, premi risiko akan naik lagi,” imbuh Josua.
Strategi Investasi: Defensif Tanpa Panik
Josua menilai investor sebaiknya tetap bersikap defensif namun tidak panik menghadapi kondisi pasar saat ini. Menjual seluruh aset Indonesia ketika harga telah terkoreksi dalam dinilai bukan keputusan yang tepat, tetapi meningkatkan eksposur risiko secara agresif juga belum disarankan. “Strategi yang lebih seimbang adalah menjaga likuiditas, memperbesar porsi instrumen jangka pendek, melakukan pembelian bertahap, dan memastikan portofolio tidak terlalu terkonsentrasi pada satu aset atau satu mata uang,” terang dia.
Baca Juga: Harga emas Antam Stagnan di Rp2.711.000 per Gram pada Minggu (14/6) Untuk investor konservatif, porsi investasi lebih besar disarankan ditempatkan pada pasar uang, deposito, dan SBN tenor pendek. Investor moderat dapat mulai masuk secara bertahap ke SBN tenor menengah dan saham pilihan, sedangkan investor agresif dapat memanfaatkan koreksi pasar untuk mengoleksi saham berkualitas tinggi dengan tetap menerapkan batas risiko yang jelas. Bagi investor yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam dolar AS, seperti biaya pendidikan, impor, atau transaksi luar negeri, kepemilikan sebagian aset dalam mata uang asing juga dinilai penting sebagai instrumen lindung nilai. Senada dengan itu, Budi Frensidy mengingatkan agar investor tidak mengambil keputusan berdasarkan emosi.
“Diversifikasi menjadi semakin penting, baik antar instrumen maupun mata uang,” ucap Budi. Ia menyarankan likuiditas tetap dijaga, namun koreksi pasar dapat dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi bertahap pada aset berkualitas. Investor konservatif dapat meningkatkan porsi pasar uang dan obligasi jangka pendek, sedangkan investor jangka panjang mulai mempertimbangkan pembelian bertahap pada saham maupun obligasi yang telah memiliki valuasi menarik. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News