Risiko Kredit Meningkat, Layanan BNPL Masih Didominasi Debitur Usia 20-30 Tahun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) masih didominasi oleh debitur dari kalangan Gen Z dan milenial muda berusia antara 20 tahun-30 tahun.

Menurut data PT Pefindo Biro Kredit (idScore) per Mei 2026, kelompok usia ini memberi kontribusi sekitar 40,2% terhadap total outstanding pembiayaan.

Direktur Utama Pefindo Biro Kredit Tan Glant Saputrahadi mengatakan bahwa layanan BNPL masih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat usia produktif, terutama dari kelompok yang aktif bertransaksi secara digital dan memiliki kebutuhan pembiayaan yang fleksibel.


Baca Juga: Mendominasi, Pembiayaan Multiguna Multifinance Capai Rp 256,77 Triliun per Mei 2026

"Hal ini menunjukkan bahwa layanan BNPL banyak dimanfaatkan oleh masyarakat usia produktif," ujarnya kepada Kontan, Sabtu (11/7/2026).

Sayangnya, debitur usia ini dipandang lebih berisiko terhadap kredit macet. idScore sendiri mencatat kenaikan Non-Performing Financing (NPF) meningkat ke level 3,11% year on year (YoY).

Selain itu, risiko kredit juga mengintai pada debitur dengan pendapatan tidak tetap.

Sejalan dengan itu, Tan menilai pemanfaatan credit scoring dan pemantauan risiko berkelanjutan dinilai penting agar penyaluran BNPL bisa terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan bahwa beberapa inovasi teknologi bisa menjadi salah satu cara untuk mengantisipasi kredit macet. 

Baca Juga: OJK Dorong Industri LKM Perkuat Kesiapan Infrastruktur untuk Akses SLIK

Perusahaan pembiayaan bisa memanfaatkan teknologi AI dan machine learning untuk menganalisis profil risiko calon pengguna secara akurat, termasuk melihat pola transaksi dan kemampuan bayar debitur.

Selain itu, pemanfaatan data alternatif dan sistem peringatan dini bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi potensi gagal bayar lebih cepat.

Namun, Heru menegaskan bahwa teknologi tidak hanya dimanfaatkan untuk mempercepat kredit melainkan untuk meningkatkan kualitas keputusan pembiayaan.

"Teknologi seharusnya tidak hanya mempercepat persetujuan kredit, tetapi juga meningkatkan kualitas keputusan pembiayaan," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News