JAKARTA. Harga komoditas, terutama migas yang kian terperosok boleh jadi membuat kalangan perbankan ketar-ketir. Sebab, kejatuhan harga bisa berujung pada kredit macet debitur sektor pertambangan. Tengok saja harga minyak dunia yang turun tajam sepanjang tahun 2016. Hingga Selasa (9/2) pukul 20.53 WIB, harga kontrak minyak WTI bulan Maret 2016 sudah tengkurap di level US$ 29,50 per barel. Angka ini turun 21,63% dari posisi akhir tahun 2015 di level US$ 37,64 per barel. Kesinambungan bisnis pertambangan pun terancam. Ujungnya, kredit bermasalah bisa naik. Sebagai contoh, hingga November 2015, total kredit macet sektor pertambangan dan penggalian perbankan di kelompok BUKU IV berjumlah Rp 2,15 triliun, naik dari akhir 2014 lalu yang hanya Rp 847 miliar. Padahal jumlah kredit yang disalurkan turun dari semula Rp 63,21 triliun menjadi Rp 53,39 triliun
Risiko kredit sektor migas meningkat
JAKARTA. Harga komoditas, terutama migas yang kian terperosok boleh jadi membuat kalangan perbankan ketar-ketir. Sebab, kejatuhan harga bisa berujung pada kredit macet debitur sektor pertambangan. Tengok saja harga minyak dunia yang turun tajam sepanjang tahun 2016. Hingga Selasa (9/2) pukul 20.53 WIB, harga kontrak minyak WTI bulan Maret 2016 sudah tengkurap di level US$ 29,50 per barel. Angka ini turun 21,63% dari posisi akhir tahun 2015 di level US$ 37,64 per barel. Kesinambungan bisnis pertambangan pun terancam. Ujungnya, kredit bermasalah bisa naik. Sebagai contoh, hingga November 2015, total kredit macet sektor pertambangan dan penggalian perbankan di kelompok BUKU IV berjumlah Rp 2,15 triliun, naik dari akhir 2014 lalu yang hanya Rp 847 miliar. Padahal jumlah kredit yang disalurkan turun dari semula Rp 63,21 triliun menjadi Rp 53,39 triliun