KONTAN.CO.ID – SINGAPURA/TOKYO. Risiko kredit SoftBank Group melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada Jumat (6/11/2026). Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek keuntungan investasi kecerdasan buatan (AI) yang mulai menekan pasar keuangan global. Mengutip data
Markit, spread credit default swap (CDS) SoftBank bertenor lima tahun naik 22 basis poin menjadi 466 basis poin. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Oktober 2022.
Kenaikan CDS mencerminkan meningkatnya biaya untuk melindungi investor dari risiko gagal bayar perusahaan. Semakin tinggi
spread CDS, semakin besar pula persepsi pasar terhadap risiko kredit perusahaan tersebut.
Baca Juga: S&P Global Ratings Menyoroti Risiko Kredit Himbara, Ingatkan Risiko Gagal Bayar Tekanan terhadap SoftBank tidak terlepas dari besarnya eksposur perusahaan terhadap industri AI. SoftBank memiliki investasi senilai US$ 64,6 miliar di OpenAI, pengembang model AI, serta menguasai 90% saham Arm, perusahaan perancang cip semikonduktor. Kondisi keuangan SoftBank juga semakin menjadi perhatian investor sepanjang tahun ini. Perusahaan menambah utang dengan imbal hasil yang mencapai rekor tertinggi untuk mendanai investasinya di OpenAI. Di sisi lain, prospek pengembalian investasi tersebut semakin mundur setelah OpenAI menunda rencana penawaran saham perdana atau
initial public offering (IPO) hingga 2027. Kekhawatiran pasar turut meningkat setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilihan sela atau
midterm election di Amerika Serikat (AS) pekan ini. Hasil pemilu tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pembangunan infrastruktur AI di AS akan melambat. Dampaknya tidak hanya dirasakan SoftBank. Spread CDS sejumlah perusahaan yang menggunakan utang untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI juga mengalami kenaikan.
Baca Juga: Risiko Kredit Macet UMKM Tembus 4,62%, BI Soroti Perlambatan Pembiayaan Rolf Bulk, Kepala Riset Semikonduktor dan Infrastruktur di Futurum Group, menyebut hasil pemilu AS berpotensi menghambat pembangunan pusat data. Dalam laporan risetnya pada Kamis (5/11), Bulk memperkirakan sekitar sepertiga kapasitas pusat data di AS menghadapi risiko penundaan pembangunan. Pasalnya, sejumlah proyek pusat data yang telah direncanakan berada di negara bagian yang gubernurnya berpotensi memperlambat proses pengembangan. Kondisi ini menambah tekanan terhadap perusahaan yang telah menggelontorkan investasi besar untuk infrastruktur AI, sementara prospek keuntungan dan waktu pengembalian modal masih dibayangi ketidakpastian.