KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Di tengah tren pertumbuhan simpanan yang positif, bank menyiapkan berbagai strategi untuk menggenjot penyaluran kredit dan pembiayaan agar likuiditas tak berakhir sia-sia. Berdasarkan laporan analisis uang beredar Bank Indonesia (BI), total simpanan alias dana pihak ketiga (DPK) perbankan pada akhir tahun 2025 mencapai Rp 9.467,6 triliun, tumbuh 10,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Jika dibandingkan, level pertumbuhan tersebut jauh melampaui pertumbuhan pada Desember 2024 yang hanya sebesar 3,7% yoy.
Dengan tren itu, likuiditas perbankan nampak kembali melonggar. Memang, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga November 2025 rasio alat likuid/DPK kembali naik jadi 29,67%. Pasalnya, pertumbuhan kredit industri sendiri masih cenderung lambat. Meski melaju sampai 9,69% yoy, Namun, level itu lebih rendah ketimbang pertumbuhan 10,39% yoy pada Desember 2024.
Baca Juga: Nilai Rupiah Berfluktuasi, Likuiditas Valas Perbankan Masih Terjaga Kendati begitu, Bank Syariah Indonesia (BSI) nampaknya masih optimistis kinerja pembiayaan perbankan semakin baik tahun ini. Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menjelaskan, bank melihat pertumbuhan perekonomian nasional bakal mencapai 5,28% tahun ini. Itu ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang solid, penguatan investasi, belanja fiskal yang masih bersifat ekspansif tetapi tetap prudent, serta dukungan sektor eksternal dengan neraca perdagangan yang relatif terjaga. Dari sisi pendanaan, BSI masih bakal fokus pada optimalisasi dana murah dengan menawarkan produk uniqueness syariah, misal Tabungan Haji. “BSI juga memiliki produk tabungan skema wadiah di mana tidak ada biaya administrasi bagi nasabah dan juga tidak ada bagi hasil,” ungkap Wisnu kepada Kontan, Senin (26/1/2026). Nah dari sisi pembiayaan, bisnis emas, yakni bulion bank, cicil emas, dan gadai emas, masih menjadi fokus utama. Pasalnya, kata Wisnu, bisnis ini mendapat antusias tinggi di masyarakat, yang mana penjualan emas bulion di BSI mencapai kisaran 2 ton per Desember 2025. Namun tak cuman itu, bank juga fokus pada pembiayaan yang terukur dan selektif ke segmen konsumer, ritel, UMKM, korporasi, dan wholesale. “Tentu dengan tetap memperhatikan Good Corporate Governance dan risk appetite,” imbuh Wisnu.
Baca Juga: Gelontoran Insentif Likuiditas Makroprudensial BI Meningkat, Apa Dampak ke Perbankan? Sebagai bank pemerintah, Wisnu bilang pihaknya juga senantiasa mendukung program-program untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan ekonomi hulu ke hilir seperti program bullion bank, KUR Syariah, rumah bersubsidi, hingga program makanan bergizi. Dengan dukungan kebijakan, regulasi, kolaborasi stakeholders dan pelaku industri dan demand pasar yang tinggi, BSI optimis tahun ini pertumbuhan DPK dan pembiayaan masih tetap tumbuh solid dan positif. Sementara itu, Direktur OK Bank Efdinal Alamsyah menjelaskan bahwa secara umum likuiditas yang longgar merupakan ruang lebar bagi perbankan menyalurkan kredit lebih masif. Hanya saja, penyaluran kredit tetap sangat bergantung pada kualitas permintaan kredit, profil risiko calon debitur, dan lainnya. Nah, kalau permintaan kredit tahun ini masih relatif lemah, ia bilang likuiditas harus dikelola secara disiplin agar tetap produktif dan tidak membebani profitabilitas. Salah satu caranya adalah dengan tidak mengejar pertumbuhan DPK semata dari sisi volume, tetapi juga fokus pada dana yang stabil dan berbiaya efisien. “Khususnya fokus ke penjaringan dana murah, pricing deposito dijaga ketat agar tidak menekan NIM,” jelas Efdinal. Lebih lanjut, ia bilang likuiditas perlu dijaga pada level yang optimal. Tidak berlebihan, sehingga pertumbuhan DPK sesuai dengan pipeline kredit yang ada. Hingga akhir tahun 2025, DPK OK Bank berhasil tumbuh 19% yoy, sementara kredit tumbuh 15% yoy. Tahun ini, bank memproyeksi pertumbuhan DPK bakal hanya sebesar 10% yoy dan kredit di kisaran 9,5%.
Baca Juga: Likuiditas Longgar, Perbankan Mulai Turunkan Suku Bunga Deposito Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News