Risiko Perang AS-Iran: Pasar Mencari Safe Haven, Dollar Jadi Pilihan



KONTAN.CO.ID - Dolar AS menguat terhadap mata uang utama pada Kamis (26/3/2026), seiring tanda-tanda bahwa Amerika Serikat dan Iran masih memiliki jarak yang lebar dalam kesepakatan damai. Kondisi ini memupuskan harapan de-eskalasi di Timur Tengah, menghidupkan kembali risiko guncangan energi berkepanjangan, serta meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.

Reuters memberitakan, seorang pejabat Iran mengatakan proposal AS tidak memenuhi persyaratan minimum untuk bisa berhasil dan hanya menguntungkan kepentingan AS dan Israel. Namun, ia menambahkan bahwa jalur diplomasi belum berakhir.

Akan tetapi, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia tidak yakin bersedia membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang.


“Kedua pihak tampaknya masih sangat jauh dalam hal syarat-syarat negosiasi mendasar, dan Teheran memiliki insentif besar untuk tetap menutup Selat Hormuz secara efektif dari lalu lintas kapal tanker untuk sementara waktu,” kata Karl Schamotta, kepala ahli strategi pasar di Corpay, Toronto.

Dia menambahkan, “Tekanan terhadap pasokan energi global diperkirakan akan meningkat tajam, dan investor mulai bersiap menghadapi konsekuensi ekonomi yang buruk.”

Dalam perdagangan Kamis sore, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang, naik 0,35% menjadi 99,97.

Baca Juga: Perang Iran: Lembaga Keuangan dan Broker Besar Ramai-Ramai Kerek Harga Minyak Dunia

Euro turun 0,3% menjadi US$ 1,1524, dan pound sterling melemah 0,35% menjadi US$ 1,3319.

Dolar AS menguat 0,22% terhadap yen Jepang menjadi 159,81 yen.

Ketika faktor geopolitik dan kekhawatiran inflasi terus mengarahkan pasar, klaim pengangguran baru di AS naik tipis pekan lalu, tanpa memberikan kejutan berarti dan menunjukkan pasar tenaga kerja masih stabil. Hal itu memberi ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tetap sambil mengawasi risiko inflasi yang terkait perang.

Pasar saham turun dan harga minyak naik karena kehati-hatian investor meningkat terhadap arah upaya diplomasi yang masih tidak pasti, sehingga turut mendukung penguatan dolar.

Jane Foley, kepala strategi valas Rabobank di London, mengatakan pasar menghadapi ketidakpastian karena tenggat negosiasi lima hari semakin dekat dan akhir pekan segera tiba, saat pasar tutup.

“Dalam kondisi seperti itu, menurut saya sangat bisa dipahami... bahwa kita melihat sedikit kecemasan, aset berisiko turun, pasar saham berada di zona merah, dan pasar menarik kembali sebagian optimisme yang sebelumnya muncul,” kata Foley.

Seiring optimisme sehari sebelumnya memudar, harga minyak terakhir tercatat naik 5,34% menjadi US$ 107,68 per barel.

AS merupakan eksportir energi bersih, berbeda dengan zona euro, Inggris, atau Jepang. Pasar sepenuhnya memperhitungkan tiga kali kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) tahun ini, dan hampir melakukan hal yang sama untuk Bank of England (BoE).

Baca Juga: Harga Emas Anjlok 17% Sejak Perang Pecah, Ada Apa dengan Safe Haven Ini?

ECB memiliki “opsi” untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya jika perang di Timur Tengah memicu kekhawatiran lonjakan inflasi di zona euro, kata pembuat kebijakan Joachim Nagel kepada Reuters.

Namun, Deputi Gubernur Bank of England Sarah Breeden mengatakan ia melihat risiko efek inflasi putaran kedua dari kenaikan harga energi akibat perang Iran lebih kecil dibandingkan dampak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, karena pasar tenaga kerja saat ini lebih lemah.

“Latar belakang kebijakan bank sentral secara umum masih cenderung hawkish, dengan pasar kini menyesuaikan ekspektasi terhadap The Fed menuju sekitar 10 basis poin pengetatan tahun ini, perubahan signifikan dari ekspektasi pemangkasan suku bunga yang bahkan masih dihitung pasar pada pekan lalu,” kata Uto Shinohara, ahli strategi investasi senior di Mesirow Currency Management, Chicago.

Tonton: Krisis Hormuz Ganggu 20% Pasokan Minyak, Begini Kondisi Ketahanan Energi Nasional

Terhadap yuan China, dolar AS naik 0,29% menjadi 6,922 yuan dalam perdagangan offshore. Trump mengatakan ia akan bertemu Presiden China Xi Jinping pada 14 dan 15 Mei setelah pertemuan sebelumnya tertunda akibat perang Iran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News