Risiko Persepsi Indepedensi BI Membayangi Deputi Gubernur Baru



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengangkatan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) belum memicu gejolak berarti di pasar keuangan. Namun, stabilitas jangka pendek ini dinilai belum mencerminkan penerimaan fundamental, melainkan lebih dipengaruhi ekspektasi intervensi BI dan sentimen global yang masih kondusif.

Analis Ekonomi Politik FINE Institute, Kusfiardi, menilai penguatan rupiah dalam dua hari terakhir lebih bersifat temporer dan spekulatif. Pasar, menurut dia, belum sepenuhnya merespons pengangkatan deputi gubernur baru tersebut secara struktural.

 “Stabilitas ini lebih mencerminkan kepercayaan umum terhadap komitmen stabilisasi BI, termasuk sinyal intervensi dari Gubernur Perry Warjiyo, bukan reaksi fundamental atas pengangkatan itu sendiri,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Kontan, Rabu (28/1/2026). 


Baca Juga: Prabowo Dikabarkan Akan Reshuffle Kabinet Siang Ini, Menlu Diganti?

Pada perdagangan 26–27 Januari 2026, rupiah tercatat menguat tipis di kisaran Rp16.768–Rp16.780 per dolar AS. 

Di balik ketenangan tersebut, Kusfiardi mengingatkan adanya risiko yang lebih subtil tetapi krusial, yakni persepsi independensi Bank Indonesia. Dalam sistem keuangan modern, pasar bekerja berbasis ekspektasi, sehingga penyempitan jarak institusional antara bank sentral dan kekuasaan politik berpotensi memicu volatilitas jangka menengah.

 “Risikonya tidak selalu muncul sebagai gejolak instan, tetapi bisa berupa tekanan nilai tukar, kenaikan premi risiko SBN, atau perubahan arus modal asing,” katanya.

Baca Juga: BI Masih Buka Peluang Turunkan Suku Bunga, Inflasi Inti Tetap Rendah

Ia menambahkan, risiko fiscal dominance kerap hadir bukan dalam bentuk kebijakan eksplisit, melainkan sebagai ekspektasi pasar yang terbentuk dari sinyal politik dan kedekatan institusional. Meski independensi BI secara hukum dijamin melalui UU No. 23 Tahun 1999 dan mekanisme kolektif Rapat Dewan Gubernur (RDG), persepsi negatif yang dibiarkan berkembang dapat menimbulkan biaya kredibilitas yang mahal. 

“Apalagi jika stabilisasi jangka pendek terlalu bergantung pada intervensi agresif di pasar valas yang berpotensi menggerus cadangan devisa,” ujarnya.

Per akhir Desember 2025, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar US$156 miliar. Menurut Kusfiardi, angka tersebut masih solid, tetapi bukan tanpa batas jika tekanan pasar meningkat akibat erosi kepercayaan.

Oleh karena itu, ia menilai pengangkatan deputi gubernur BI kali ini bukanlah akhir polemik, melainkan awal fase pengujian kredibilitas institusional bank sentral.

 Pembuktian paling nyata akan terlihat dalam 3–6 bulan pertama melalui komunikasi kebijakan yang konsisten, sikap moneter yang disiplin, serta penguatan tata kelola dan transparansi kelembagaan. 

“Jika komunikasi dan kebijakan konsisten, persepsi negatif bisa diredam. Namun, tanpa itu bola liar persepsi pasar bisa berubah menjadi tekanan nyata bagi stabilitas ekonomi,” pungkasnya.

Selanjutnya: BBCA Hadapi 2026 dengan Modal Kinerja yang Solid, Begini Rekomendasi Analis

Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026, 5 Wakil Indonesia Amankan Tiket 16 Besar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News