Risiko yang bisa mengerem tren bullish Wall Street



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pengesahan reformasi pajak Amerika Serikat (AS) diiringi dengan momentum perbaikan ekonomi Paman Sam membuat indeks saham di Wall Street melaju di tahun 2017. Ada ramalan, bursa Wall Street akan menghijau hingga tahun depan.

Reuters, kemarin (28/12) melaporkan, sederet indeks saham yang mengalami reli di sepanjang tahun ini adalah Dow Jones Industrial Average yang menanjak 25,22%, kemudian indeks S&P 500 naik 19,73%, dan Nasdaq Composite melejit 28,85%.

Pada perdagangan Rabu (27/12), indeks Dow Jones Industrial Average naik 28,09 poin atau 0,11% ke level 24.774,30, kemudian indeks S&P 500 naik 2,12 poin atau 0,08% ke level 2.683,62, dan Nasdaq Composite naik 3,09 poin atau 0,04% ke level 6.939,34.


Di akhir tahun ini, indeks Wall Street mendapatkan tambahan bahan bakar dari siklus tahunan santa rally. Para analis dan ekonom menilai, di tahun ini santa rally didorong oleh agenda stimulus ekonomi Presiden AS Donald Trump.

Meski trennya masih bullish, namun sejumlah risiko mengintai. Salah satunya, rencana kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve (The Fed) di tahun depan bisa saja mengerem laju bursa saham di Wall Street.

Bank-bank terkemuka di AS telah memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga tiga kali di 2018. Pada pertengahan Desember 2017, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 1,25% hingga 1,5%.

Paul Nolte, Manajer Portofolio di Kingsview Asset Management mengatakan, ini akan menjadi risiko pasar. "Anda akan mengambil risiko membalik kurva imbal hasil pada saat itu," paparnya.

Tak hanya itu, beberapa ahli ekonomi khawatir akan terjadi kenaikan inflasi yang lebih cepat di AS. Alhasil, ini menciptakan tekanan margin dan menekan The Fed untuk menaikkan bunga lebih cepat.

"Inflasi bisa menjadi game changer global untuk pasar saham dan kredit," kata analis Bank of America Merrill Lynch. Menurutnya, inflasi berpotensi menjadi faktor paling penting yang akan dicermati pasar saham.

Keith Lerner, Kepala Strategi Pasar dan Direktur SunTrust Advisory Services Inc, menambahkan ketegangan politik AS dengan Korea Utara dan Timur juga akan ikut mempengaruhi bursa saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie