Rizal Ramli: Tahun ini, CAD mampu sentuh 2,4% dari PDB



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli menyatakan, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia diprediksi akan berkurang.

Ia mengatakan, paling banyak, CAD Indonesia hingga akhir tahun ini, CAD bisa berkurang US$ 1 miliar dari prediksi Bank Indonesia (BI). BI sendiri memprediksi CAD mencapai US$ 25 miliar hingga akhir tahun ini atau sekitar 2,5% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Artinya, ia memprediksi, CAD secara nominal di akhir tahun bakal sebesar US$ 24 miliar atau 2,4% dari PDB. Menurut dia, hal ini lantaran pemerintah hanya menerapkan kebijakan yang berdampak bagi laju impor. 


Meski begitu, dampaknya menurut dia masih kecil. "CAD BI sendiri ramal US$ 25 miliar. Dengan langkah-langkah yang dilakukan saat ini paling hanya kurang US$ 1 miliar," ujar Rizal Ramli dalam acara diskusi ekonomi di Hotel Ibis, Jakarta, Rabu (26/9). 

Kebijakan yang dimaksud Rizal Ramli adalah kenaikan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Impor pada 1.147 komoditas.

"Kebanyakan komoditas ecek-ecek aja, lipstik, baju, yang total impornya hanya US$ 5 miliar. Pemerintah tidak berani sentuh top ten impor," ujar dia. 

“Kenapa tidak menyetop impor baja. Padahal nilai impornya mencapai US$ 10,6 miliar,” lanjutnya.

Asal tahu saja, BI memprediksi CAD akan turun menjadi 2,5% terhadap PDB pada akhir tahun. Sementara pada kuartal II tahun 2018, neraca berjalan telah defisit sebesar 3% terhadap PDB atau sebesar US$ 8 miliar.

Turunnya CAD di akhir tahun ini menurut BI, utamanya disebabkan pergantian penggunaan bahan bakar solar dengan biodiesel (B20). Dengan penggunaan B20, pemerintah dapat mengurangi impor minyak mentah (crude oil) hingga US$ 2,2 miliar.

“Juga penggunaan TKDN dan kenaikan di sektor pariwisata, sehingga untuk tahun ini CAD bisa mengarah ke 2,5% dari PDB,” ucap Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, Asian Development Bank (ADB) memproyeksi CAD pada tahun ini melebar sampai 2,6% dari PDB. Hal ini disebabkan oleh kuatnya investasi swasta di Indonesia dan impor barang modal meningkat untuk mendukung proyek infrastruktur.

Di saat bersamaan, pertumbuhan ekspor tetap dalam dua digit tetapi kemungkinan melambat dalam jangka pendek akibat harga minyak dan komoditas yang cenderung datar.

Adapun, arus masuk bersih dari investasi langsung asing dan modal portofolio juga menurun.

Meski demikian, hal ini tidak demikian menandakan fundamental ekonomi Indonesia buruk. Sebab, faktor pendorong CAD yang melebar ini masih terkendali.

“Kami tidak lihat alasan apapun untuk panik. Semua masih on the track. Kami senang mendengar upaya dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk memperkecil CAD dan kami support usaha itu,” kata kata Kepala Perwakilan ADB di Indonesia Winfried Wicklein di Kantor ADB, Jakarta, Rabu (26/9).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Narita Indrastiti