RKAB 2026 Jadi Katalis Pemulihan Operasional INCO, Ini Proyeksi Kuartal III-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pada kuartal III-2026 dinilai berada dalam tren pemulihan yang cukup solid, seiring dengan meningkatnya potensi aktivitas operasional setelah kejelasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, mengatakan kepastian RKAB menjadi salah satu faktor utama yang membuka ruang perbaikan kinerja operasional perseroan.

"Dengan adanya kepastian RKAB, aktivitas produksi dan penjualan bijih dari Bahodopi dan Pomalaa berpeluang menjadi tambahan positif bagi pendapatan, di luar bisnis utama nickel matte," ujar Ekky kepada KONTAN, Rabu (1/7/2026).


Baca Juga: Rupiah Jisdor Melemah 0,35% ke Rp 17.961 per Dolar AS pada Rabu (1/7/2026)

Meski demikian, Ekky menilai proses pemulihan kinerja INCO masih akan berlangsung bertahap dan belum menunjukkan akselerasi yang agresif. Hal ini tidak terlepas dari kondisi harga nikel global yang masih berfluktuasi serta potensi kelebihan pasokan (oversupply) di pasar.

"Walaupun dari sisi operasional ada ruang perbaikan, dari sisi harga komoditas tekanannya masih perlu diperhatikan," kata Ekky.

Selain faktor harga, INCO juga menghadapi sejumlah tantangan lain seperti tingginya biaya energi, kebutuhan bahan baku pendukung serta risiko eksekusi proyek hilirisasi yang membutuhkan belanja modal (capex) besar.

Ekky juga menyoroti risiko regulasi di sektor pertambangan yang masih cukup dinamis, terutama terkait RKAB, kuota produksi, kebijakan Harga Patokan Mineral (HPM), hingga penyesuaian royalti.

"Perubahan aturan yang terlalu sering dapat memengaruhi kepastian produksi, biaya, dan rencana ekspansi emiten nikel. Jadi selain harga nikel, risiko regulasi menjadi faktor utama yang perlu dicermati investor," ujar Ekky.

Ke depan, sejumlah sentimen yang akan memengaruhi kinerja INCO pada kuartal III-2026 antara lain arah harga nikel, permintaan stainless steel dan baterai kendaraan listrik (EV), kepastian RKAB, kebijakan HPM, serta progres proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) di Pomalaa dan Bahodopi.

Dalam jangka pendek, pergerakan harga nikel dan kepastian operasional diperkirakan masih menjadi penggerak utama kinerja saham. Sementara dalam jangka menengah hingga panjang, proyek HPAL berpotensi menjadi katalis utama yang memperkuat posisi INCO di rantai pasok baterai EV.

“Proyek HPAL Pomalaa dan Bahodopi akan lebih terasa dampaknya dalam dua sampai tiga tahun ke depan. Jika berjalan sesuai target, INCO tidak hanya bergantung pada nickel matte, tetapi juga punya eksposur ke produk hilirisasi seperti MHP,” kata Ekky.

Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi katalis positif bagi valuasi perusahaan, mengingat pasar cenderung memberikan apresiasi lebih tinggi kepada emiten dengan model bisnis yang lebih terintegrasi dalam rantai pasok baterai.

Di tengah banyaknya emiten nikel, Ekky menilai INCO masih menjadi salah satu pilihan utama (top pick) di sektor nikel. Ia menyebut keunggulan INCO terletak pada fundamental yang relatif kuat, rekam jejak operasi panjang, tata kelola yang baik, serta profil risiko yang lebih konservatif dibandingkan sejumlah emiten sejenis.

Untuk strategi investasi, Ekky menilai saham INCO masih menarik untuk diakumulasi secara bertahap, terutama jika terjadi koreksi harga ke area support terdekat di sekitar Rp 4.000.

Sementara itu, target harga jangka pendek berada di kisaran Rp4.750–Rp 5.000, dengan target lanjutan di level Rp 5.400–Rp 5.500. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa strategi masuk tetap perlu dilakukan secara bertahap, mengingat harga nikel masih berfluktuasi dan sentimen regulasi di sektor pertambangan relatif dinamis.

Baca Juga: Matahari (MPPA) Gelar Rights Issue Rp1,19 Triliun, Mayoritas Dana untuk Akuisisi Aset

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News