RKAB Batubara Berpotensi Dipangkas, Asuransi YOII Akan Diversifikasi Portofolio



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan asuransi umum PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) menilai dampak rencana pemangkasan Rancangan Anggaran Kerja dan Belanja (RKAB) batubara 2026 terhadap industri asuransi umum akan bergantung pada portofolio masing-masing perusahaan.

Corporate Secretary PT Asuransi Digital Bersama Tbk Rahmat Dwiyanto mengatakan, perusahaan yang memiliki eksposur signifikan pada sektor pertambangan berpotensi mengalami penurunan premi, khususnya dari lini yang berkaitan langsung dengan aktivitas produksi dan distribusi batubara.

“Secara umum, dampaknya akan sangat bergantung pada komposisi portofolio. Perusahaan dengan paparan besar di sektor tambang tentu berpotensi terdampak, terutama pada lini yang terkait produksi dan distribusi batubara,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).


Baca Juga: Tokio Marine Life Beberkan Faktor yang Pengaruhi Kinerja Unitlink Saham pada 2026

Ia menambahkan, secara industri, selain lini pengangkutan dan operasional tambang, asuransi engineering termasuk Construction All Risk juga berpotensi terpengaruh. Hal ini terutama apabila terjadi penundaan ekspansi proyek tambang atau pembangunan infrastruktur pendukung.

Kendati demikian, Rahmat menuturkan, rencana pemangkasan RKAB batubara tidak memberikan tekanan signifikan terhadap kinerja YOII. Pasalnya, komposisi portofolio perusahaan lebih berfokus pada produk asuransi berbasis gaya hidup (lifestyle insurance) dan segmen ritel, sehingga tidak didominasi risiko sektor pertambangan.

“Dengan komposisi tersebut, potensi penurunan produksi batubara diperkirakan tidak berdampak langsung terhadap pendapatan premi Perseroan,” jelasnya.

Baca Juga: Ini Strategi Asuransi Digital (YOII) untuk Dorong Kinerja Pendapatan Premi pada 2026

Rahmat bilang, pihaknya akan tetap menjaga diversifikasi portofolio dan memperkuat lini bisnis dengan permintaan stabil dari segmen ritel dan lifestyle ke depannya. Perusahaan juga terus mengembangkan produk melalui kanal distribusi digital guna meminimalkan ketergantungan pada sektor tertentu.

"Selain itu, kami tetap memantau perkembangan sektor-sektor industri utama sebagai bagian dari manajemen risiko portofolio, guna memastikan komposisi bisnis tetap sehat dan berkelanjutan dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: