KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengungkap proses finalisasi dari Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara perseroan sepanjang tahun ini masih berlangsung di Kementerian ESDM, "Target produksi internal, PTBA saat ini masih dalam proses finalisasi dan evaluasi RKAB 2026 bersama Kementerian ESDM. Operasional kami tetap berjalan dengan mengacu pada regulasi yang berlaku," ungkap P.H. Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno kepada Kontan, Jumat (16/12/2025). Eko mengatakan, penentuan angka produksi final akan selalu mempertimbangkan ketersediaan cadangan, kapasitas infrastruktur logistik, serta dinamika pasar, dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri. Asal tahu saja, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap akan memangkas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tambang untuk tahun 2026. Khusus untuk batubara RKAB produksi berada pada angka kurang lebih 600 juta ton. Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) Tunggu Arahan Danantara soal Proyek Hilirisasi Batubara DME "PTBA menghormati dan mendukung penuh kebijakan Pemerintah melalui Kementerian ESDM dalam mengatur kuota produksi nasional melalui RKAB. Kebijakan ini kami pandang sebagai langkah strategis Pemerintah untuk menjaga keseimbangan pasar (supply and demand) serta memastikan keberlanjutan sumber daya energi nasional," tambah Eko. Kedepan, Eko bilang PTBA tetap menjadikan pemenuhan kebutuhan batubara dalam negeri khusunya untuk PLN dan industri domestik sebagai prioritas utama. "Dengan potensi kenaikan harga global, PTBA akan lebih selektif dalam menyasar pasar ekspor seperti India, Asia Tenggara, dan Asia Timur. Kami juga terus memantau pergerakan harga global untuk menyesuaikan bauran pasar agar tetap kompetitif di tengah fluktuasi pasar internasional," ungkapnya. Sebagai gambaran, sepanjang tahun 2025, Bukit asam menargetkan produksi batubara mencapai 50,05 juta ton dengan negara tujuan ekspor utama yaitu Bangladesh, India, Filipina, Vietnam, dan Korea Selatan. Baca Juga: Kantongi Dana Rp 3,56 Triliun, Bukit Asam (PTBA) Tingkatkan Fasilitas Angkut Batubara Sementara, dalam catatan Kontan, batubara untuk listrik yang disalurkan pada PLN tahun ini belum mengalami dampak dari pemangkasan RKAB. Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernardus Sudarmanta mengatakan pasokan batubara masih mengacu pada RKAB sebelumnya yang berlaku selama tiga tahun dan dapat digunakan hingga Maret 2026. Pasokan batubara masih mengacu pada RKAB sebelumnya yang berlaku selama tiga tahun dan dapat digunakan hingga Maret 2026. "Terkait RKAB sumber tambang batu bara, secara umum kami tidak ada kendala karena saat ini masih berdasarkan RKAB sebelumnya yang tetap dipakai sampai dengan bulan Maret,” ujar Bernardus kepada Kontan, Rabu (14/1/2026). Dari sisi stok, Bernardus menyebutkan kondisi batubara di PLTU PLN IP masih relatif aman. Rata-rata stok batubara di pembangkit setara 21,14 hari operasi pembangkit (HOP). Selain itu, pasokan juga terus berjalan dengan kedatangan tongkang batubara ke sejumlah pembangkit. “Stok batubara kami sejauh ini aman di pembangkit, setara rata-rata 21,14 HOP. Beberapa tongkang juga terus berdatangan,” katanya.
RKAB Batubara Dipangkas Tahun Ini, PTBA Masih Tunggu Keputusan dari ESDM
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengungkap proses finalisasi dari Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara perseroan sepanjang tahun ini masih berlangsung di Kementerian ESDM, "Target produksi internal, PTBA saat ini masih dalam proses finalisasi dan evaluasi RKAB 2026 bersama Kementerian ESDM. Operasional kami tetap berjalan dengan mengacu pada regulasi yang berlaku," ungkap P.H. Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno kepada Kontan, Jumat (16/12/2025). Eko mengatakan, penentuan angka produksi final akan selalu mempertimbangkan ketersediaan cadangan, kapasitas infrastruktur logistik, serta dinamika pasar, dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri. Asal tahu saja, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap akan memangkas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tambang untuk tahun 2026. Khusus untuk batubara RKAB produksi berada pada angka kurang lebih 600 juta ton. Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) Tunggu Arahan Danantara soal Proyek Hilirisasi Batubara DME "PTBA menghormati dan mendukung penuh kebijakan Pemerintah melalui Kementerian ESDM dalam mengatur kuota produksi nasional melalui RKAB. Kebijakan ini kami pandang sebagai langkah strategis Pemerintah untuk menjaga keseimbangan pasar (supply and demand) serta memastikan keberlanjutan sumber daya energi nasional," tambah Eko. Kedepan, Eko bilang PTBA tetap menjadikan pemenuhan kebutuhan batubara dalam negeri khusunya untuk PLN dan industri domestik sebagai prioritas utama. "Dengan potensi kenaikan harga global, PTBA akan lebih selektif dalam menyasar pasar ekspor seperti India, Asia Tenggara, dan Asia Timur. Kami juga terus memantau pergerakan harga global untuk menyesuaikan bauran pasar agar tetap kompetitif di tengah fluktuasi pasar internasional," ungkapnya. Sebagai gambaran, sepanjang tahun 2025, Bukit asam menargetkan produksi batubara mencapai 50,05 juta ton dengan negara tujuan ekspor utama yaitu Bangladesh, India, Filipina, Vietnam, dan Korea Selatan. Baca Juga: Kantongi Dana Rp 3,56 Triliun, Bukit Asam (PTBA) Tingkatkan Fasilitas Angkut Batubara Sementara, dalam catatan Kontan, batubara untuk listrik yang disalurkan pada PLN tahun ini belum mengalami dampak dari pemangkasan RKAB. Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernardus Sudarmanta mengatakan pasokan batubara masih mengacu pada RKAB sebelumnya yang berlaku selama tiga tahun dan dapat digunakan hingga Maret 2026. Pasokan batubara masih mengacu pada RKAB sebelumnya yang berlaku selama tiga tahun dan dapat digunakan hingga Maret 2026. "Terkait RKAB sumber tambang batu bara, secara umum kami tidak ada kendala karena saat ini masih berdasarkan RKAB sebelumnya yang tetap dipakai sampai dengan bulan Maret,” ujar Bernardus kepada Kontan, Rabu (14/1/2026). Dari sisi stok, Bernardus menyebutkan kondisi batubara di PLTU PLN IP masih relatif aman. Rata-rata stok batubara di pembangkit setara 21,14 hari operasi pembangkit (HOP). Selain itu, pasokan juga terus berjalan dengan kedatangan tongkang batubara ke sejumlah pembangkit. “Stok batubara kami sejauh ini aman di pembangkit, setara rata-rata 21,14 HOP. Beberapa tongkang juga terus berdatangan,” katanya.