KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyebut prediksi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terhadap impor bijih nikel, utamanya yang berasal dari Filipina usai adanya pemangkasan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) sebesar 15 juta ton, tidak sesuai dengan kebutuhan pabrik pemurnian atau smelter nikel di dalam negeri. Ketua FINI, Arif Perdana Kusumah menyebut angka 15 juta ton impor ini tidak akan mencukupi kebutuhan pabrik-pabrik pemurnian atau smelter-smelter nikel yang sudah dan akan beroperasi tahun ini. “Impor bijih nikel sebagai penyeimbang utama akan jauh meningkat, terutama dari Filipina. Angka impor bijih nikel tahun 2025 sebanyak 15 juta wet metrik ton (wmt) sudah tidak mencukupi kebutuhan industri hilirisasi nikel di Indonesia,” kata Arif kepada Kontan, Jumat (20/02/2026).
RKAB Dipangkas, FINI: Pasokan Nikel Tak Akan Mencukupi Kebutuhan Industri Hilirisasi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyebut prediksi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terhadap impor bijih nikel, utamanya yang berasal dari Filipina usai adanya pemangkasan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) sebesar 15 juta ton, tidak sesuai dengan kebutuhan pabrik pemurnian atau smelter nikel di dalam negeri. Ketua FINI, Arif Perdana Kusumah menyebut angka 15 juta ton impor ini tidak akan mencukupi kebutuhan pabrik-pabrik pemurnian atau smelter-smelter nikel yang sudah dan akan beroperasi tahun ini. “Impor bijih nikel sebagai penyeimbang utama akan jauh meningkat, terutama dari Filipina. Angka impor bijih nikel tahun 2025 sebanyak 15 juta wet metrik ton (wmt) sudah tidak mencukupi kebutuhan industri hilirisasi nikel di Indonesia,” kata Arif kepada Kontan, Jumat (20/02/2026).
TAG: