KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT United Tractors Tbk (
UNTR) mengantisipasi pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi pertambangan nasional pada tahun 2026. UNTR menaksir penurunan target produksi bakal berdampak terhadap prospek penjualan alat berat untuk sektor pertambangan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan rencana pemangkasan target produksi batubara dan nikel. Meski belum merinci besaran volumenya, tapi Bahlil memberikan gambaran bahwa RKAB produksi batubara tahun 2026 hanya mencapai sekitar 600 juta ton. Corporate Secretary United Tractors Ari Setiyawan mengungkapkan, penurunan RKAB berpotensi memangkas penjualan alat berat, khususnya tipe big machine yang digunakan di pertambangan.
Ari memproyeksikan, penjualan alat berat UNTR tipe big machine sepanjang tahun ini akan turun menjadi sekitar 900 unit - 950 unit.
Baca Juga: Target Bumi Resources Minerals (BRMS) 2026: Tambang Emas Palu Siap Kerek Produksi 15% Ari memberikan perbandingan, komposisi penjualan
big machine UNTR pada tahun lalu mencapai 1.050 - 1.100 unit. Meski ada pemangkasan RKAB yang berdampak terhadap tingkat penjualan, tapi Ari memprediksi sektor pertambangan masih tetap menjadi pasar yang dominan bagi bisnis alat berat UNTR. "Proyeksi penjualan alat berat Komatsu ke sektor pertambangan diperkirakan masih yang terbesar. Pembelian alat berat di tahun 2026 sebagian besar untuk pergantian alat (replacement)," kata Ari kepada Kontan.co.id, Senin (12/1/2026). Emiten dari konglomerasi Grup Astra ini masih percaya diri untuk mengejar target penjualan alat berat sebanyak 4.300 unit - 4.500 unit sepanjang tahun 2026. Di tengah potensi penurunan kontribusi dari sektor pertambangan, Ari melihat peluang pertumbuhan permintaan pada sektor konstruksi dan perkebunan. Faktor pendorong utamanya berasal dari proyek pemerintah, yakni pembangunan infrastruktur dan proyek food estate. "Ada potensi peningkatan permintaan dari sektor konstruksi dan perkebunan apabila realisasi pembangunan infrastruktur lebih besar, dan juga permintaan dari perkebunan terkait pengembangan proyek food estate," terang Ari. Sampai dengan kuartal III-2025, sektor pertambangan berkontribusi sebesar 63% terhadap total penjualan alat berat UNTR yang pada periode itu mencapai 3.653 unit. Sektor pertambangan masih dominan dibandingkan perkebunan (14%), konstruksi (13%) dan kehutanan (10%).
Pada tahun lalu, UNTR memangkas target penjualan alat berat dari 4.600 unit menjadi 4.500 unit.
"Kami belum dapat sampaikan (realisasi penjualan alat berat pada 2025) karena sedang di finalisasi. Namun indikasinya sesuai dengan target," tandas Ari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News