KONTAN.CO.ID - China terus mendorong pengembangan robot humanoid dari sekadar ajang demonstrasi teknologi menuju penggunaan di dunia kerja. Setelah robot humanoid TianGong Ultra mencetak rekor lari 100 meter, pengembangnya kini menghadapi tantangan yang lebih besar: membuat robot yang cepat sekaligus andal dan berguna secara komersial. Melansir
Reuters Kamis (10/9/2026), TianGong Ultra menjadi perhatian dalam World Humanoid Robot Games setelah menuntaskan lari 100 meter dalam waktu 8,64 detik. Catatan tersebut hampir satu detik lebih cepat dibandingkan rekor dunia lari 100 meter milik Usain Bolt.
Baca Juga: Apple Tersalip Samsung Setelah 16 Tahun, Skor Brand Intimacy Anjlok Di balik pencapaian itu terdapat pengujian tanpa henti dan perbaikan robot yang mengalami kerusakan selama perlombaan. Jack Guo, insinyur berusia 34 tahun yang memimpin pengembangan Ultra dan robot TianGong Omni, mengatakan pencapaian tersebut bukan tujuan akhir. Menurut dia, tantangan berikutnya adalah mengubah performa tinggi menjadi keandalan dan kegunaan dalam kehidupan nyata. "Kami ingin mengubah performa tinggi menjadi keandalan tinggi dan kegunaan tinggi," ujar Guo kepada Reuters dalam wawancara pertamanya dengan media asing. Pengembangan TianGong menjadi salah satu gambaran kemajuan industri robot humanoid China. Dukungan pemerintah, rantai pasok manufaktur yang kuat serta persaingan ketat di dalam negeri mendorong perusahaan dan lembaga riset China mempercepat pengembangan teknologi tersebut. Namun, kemampuan robot untuk berlari cepat belum otomatis membuatnya siap menggantikan pekerjaan manusia. Industri robot humanoid masih menghadapi tantangan besar untuk mengubah demonstrasi teknologi menjadi produk yang benar-benar dapat digunakan secara luas.
Baca Juga: Perang Iran-AS Makin Brutal, Harga Minyak Tembus US$ 100 Dari laboratorium menuju dunia kerja Pengembangan TianGong dilakukan di Beijing Humanoid Robot Innovation Centre atau X-Humanoid yang berada di Yizhuang, salah satu kawasan industri robotik di tenggara Beijing. Di pusat tersebut, generasi robot TianGong dipamerkan, termasuk robot yang sebelumnya digunakan dalam ajang lari half-marathon. Sementara itu, di lantai kesembilan, sejumlah robot humanoid Ultra dan Omni terlihat menjalani pengujian dan perbaikan.
Baca Juga: Istri Presiden Pertama Indonesia Dituntut Hukuman Denda Rp 22,8 Juta, Cek Kasusnya! Para teknisi menguji kemampuan berjalan, memperbaiki kaki robot hingga membongkar bagian kepala robot. X-Humanoid didirikan pada November 2023 dengan dukungan investor dari sektor swasta maupun negara. Investor perusahaan tersebut antara lain perusahaan robotika UBTech, serta raksasa teknologi China Xiaomi dan Baidu. Perusahaan mengembangkan perangkat keras, perangkat lunak pengendali gerakan dan teknologi kecerdasan buatan untuk industri robot humanoid, sekaligus mengembangkan dan mengomersialkan robot buatannya sendiri. Meski demikian, X-Humanoid belum mengungkapkan jumlah robot yang telah dijual atau digunakan secara komersial. Sejauh ini, pelanggan X-Humanoid mencakup universitas, lembaga penelitian serta perusahaan yang mengeksplorasi penggunaan robot di sektor industri. Salah satu uji coba dilakukan di pabrik mesin Foton Cummins di Beijing. Robot Tianyi 2.0 diuji untuk memindahkan kotak berbobot sekitar 8 kilogram hingga 12 kilogram dan menempatkannya ke rak. Penggunaan tersebut masih berada pada tahap awal eksplorasi.
Baca Juga: Lagi! Pilot Negeri Tetangga Ini Ditangkap Karena Dugaan Kasus Narkoba Robot kecil berpeluang masuk lebih cepat Guo menilai, robot humanoid saat ini berada dalam tahap yang mirip dengan perkembangan mobil pada masa awal. Tahap pertama adalah memastikan kendaraan dapat dikendalikan, sebelum kemudian dikembangkan menjadi mesin yang lebih andal dan memiliki kecerdasan untuk menjalankan tugas kompleks secara mandiri. Menurut Guo, prioritas jangka pendek industri adalah memastikan tubuh robot dan sistem pengendali gerak dapat bekerja secara stabil dan andal untuk penggunaan sehari-hari. Pengembangan kecerdasan buatan untuk memungkinkan robot melakukan tugas yang lebih kompleks secara mandiri diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama. Kemampuan berlari sendiri dinilai penting karena dapat meningkatkan mobilitas robot dan kemampuannya beradaptasi dengan berbagai kondisi medan. Robot Omni yang berukuran lebih kecil bahkan telah diuji untuk menaiki gedung dari lantai pertama hingga lantai ke-17 di kantor pusat X-Humanoid. Guo memperkirakan robot humanoid berukuran lebih kecil berpotensi lebih dahulu digunakan pada layanan komersial dan industri ringan. Sementara itu, Ultra yang memiliki kemampuan lebih tinggi dapat diarahkan untuk kegiatan inspeksi luar ruangan maupun operasi penyelamatan dalam kondisi darurat.
Baca Juga: Liga Champions Memanas! PSG Pesta 6 Gol, Arsenal Menang Dramatis Tantangan bukan hanya soal kecepatan Meski mampu berlari sangat cepat, Ultra masih menghadapi persoalan teknis yang cukup besar, salah satunya kemampuan mengerem. Robot tersebut memiliki bobot sekitar 75 kilogram dan mampu melaju dengan kecepatan lebih dari 17 meter per detik. Dalam kompetisi lari 100 meter, robot harus berhenti dalam area yang relatif pendek setelah melewati garis finis sehingga beberapa robot bahkan menabrak pembatas. Guo mengatakan generasi berikutnya dapat dibuat lebih ringan, memiliki kemampuan pengereman lebih kuat serta menggunakan posisi tubuh yang lebih aman saat mengurangi kecepatan.
Baca Juga: Ada Insiden di Air Force One Hadiah Qatar, Donald Trump Tetap Nekat Terbang Dalam kompetisi tersebut, Ultra datang dengan tiga strategi lari yang sebelumnya dilatih melalui simulasi. Salah satunya telah teruji, sedangkan dua strategi lainnya secara teori mampu menghasilkan waktu lebih cepat tetapi belum banyak diuji. Strategi tersebut berupa sistem pengendali gerakan yang terus menyesuaikan posisi sendi dan keseimbangan robot sehingga dapat berlari tegak tanpa dikendalikan operator pada setiap langkah. Ultra mencatat waktu 9,39 detik pada babak penyisihan, 8,86 detik di semifinal dan akhirnya 8,64 detik di final. Di antara perlombaan, tim Guo kembali melakukan pengujian untuk meningkatkan kemampuan robot. Para teknisi bahkan bekerja sepanjang malam untuk menguji program lari baru dan menyesuaikan sistem navigasi serta pengendalian gerakan. Pengujian dengan kecepatan tinggi juga membuat sejumlah robot kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Beberapa mengalami kerusakan sehingga tim teknisi harus menyiapkan robot cadangan dan memperbaiki mesin yang rusak. Guo mengungkapkan, pada tahap awal pengembangan, kerusakan yang terjadi bahkan lebih parah. "Kaki patah, pinggang patah," kata dia.
Baca Juga: Dolar AS Dekati Level Terendah 7 Bulan terhadap Yen, Ini Pemicunya Rekor lari menjadi batu loncatan Menjelang final, tim X-Humanoid masih menguji program lari baru. Program tersebut berhasil dalam pengujian internal, tetapi tidak selalu bekerja ketika digunakan di lintasan kompetisi. Perbedaan karakteristik antarrobot juga menjadi tantangan tersendiri. Kaki Ultra yang lebih berat membuat robot tersebut relatif lambat saat melakukan akselerasi awal. Namun, setelah melewati kecepatan sekitar 10 meter per detik, robot mampu terus meningkatkan kecepatannya dan mengejar pesaing. Tim memperkirakan mereka berhasil memangkas sekitar setengah detik dari respons awal robot sebelum semifinal. Setelah itu, fokus pengembangan dialihkan pada peningkatan kecepatan maksimum.
Baca Juga: Harga Emas Naik 1,4% ke US$ 4.414, Pasar Tunggu Data Inflasi AS Dalam final, kombinasi respons awal yang lebih cepat dan akselerasi pada fase akhir membuat Ultra mampu menyalip lawan dengan lebih meyakinkan. Bagi Guo, kemenangan tersebut bukan sekadar pencapaian di arena balap. Rekor itu menjadi bagian dari proses pengembangan kemampuan dasar yang dibutuhkan robot humanoid sebelum masuk lebih jauh ke dunia industri. Setelah seluruh rangkaian kompetisi berakhir, barisan robot humanoid TianGong tampil mengenakan jubah merah bertuliskan "Champion". "Saya akhirnya bisa tidur nyenyak," ujar Guo.