KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri asuransi umum mengalami tekanan pada profitabilitas hingga semester I 2026. Kondisi ini terlihat dari Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan
return on equity (ROE) industri asuransi umum turun menjadi 12,7% secara tahunan atau
year on year (YoY) pada semester I-2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan ROE pada periode yang sama tahun lalu sebesar 20,0%. Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Dalimunthe, mengatakan penurunan ROE tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap profitabilitas dan efektivitas penggunaan modal di industri asuransi umum.
Baca Juga: Kenaikan Klaim Asuransi Marine Cargo Lebih Tinggi Dibanding Premi, Ini Kata Asei Menurut Dody, salah satu faktor yang memengaruhi penurunan ROE adalah tekanan terhadap hasil
underwriting akibat peningkatan klaim. "Namun, ROE tidak dapat dinilai hanya dari pertumbuhan premi, melainkan harus dilihat dari kualitas underwriting, pengendalian klaim, efisiensi biaya, dan produktivitas aset," ujar Dody kepada Kontan, Senin (2/11/2026). Tekanan profitabilitas terlihat dari ketimpangan pertumbuhan premi dan klaim. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan, premi asuransi umum turun sekitar 0,5% pada semester I-2026, sedangkan klaim meningkat 29,2%. Menurut Dody, peningkatan klaim berpotensi mempersempit margin
underwriting, bahkan menimbulkan kerugian teknis apabila premi yang diterima tidak sebanding dengan risiko yang ditanggung. Di sisi lain, volatilitas pasar modal dapat memengaruhi pendapatan investasi dan nilai portofolio perusahaan. Beban operasional dan biaya akuisisi yang meningkat ketika pertumbuhan premi melambat juga berpotensi menggerus margin keuntungan. Oleh karena itu, tren rasio klaim yang tinggi dan volatilitas pasar modal perlu diantisipasi agar tidak semakin menekan ROE hingga akhir 2026. Meski demikian, Dody menegaskan, kondisi tersebut tidak serta-merta menggambarkan kinerja seluruh perusahaan asuransi umum. Setiap perusahaan memiliki karakteristik portofolio, komposisi bisnis, profil risiko, struktur permodalan, dan strategi investasi yang berbeda.
Baca Juga: Asei Sebut Koreksi Tajam Pasar Saham Jadi Perhatian bagi Industri Asuransi Umum Untuk menjaga profitabilitas, Asuransi Asei mengedepankan strategi pertumbuhan bisnis yang berkualitas. Perusahaan memperkuat disiplin underwriting melalui seleksi risiko yang lebih ketat, evaluasi tarif premi berdasarkan profil risiko, serta memastikan kecukupan dukungan reasuransi. Asei juga memprioritaskan lini bisnis yang memiliki prospek pertumbuhan dan kontribusi underwriting yang sehat. Evaluasi terhadap portofolio dengan rasio klaim tinggi akan diperketat, termasuk penyesuaian strategi bisnis apabila diperlukan. Dari sisi operasional, perusahaan mendorong percepatan penyelesaian klaim, penguatan mitigasi fraud, peningkatan efektivitas penagihan premi, serta pengendalian biaya operasional. Adapun dari sisi investasi, Asei menjaga keseimbangan antara imbal hasil, kebutuhan likuiditas, dan keamanan aset melalui diversifikasi portofolio serta pengendalian risiko investasi. Dody mengatakan, evaluasi ROE dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kualitas underwriting, pengelolaan klaim, dan efisiensi operasional.
"Fokus kami bukan hanya meningkatkan ROE dalam jangka pendek, melainkan membangun profitabilitas yang berkelanjutan, memperkuat fundamental keuangan, dan memastikan setiap pertumbuhan bisnis benar-benar menciptakan nilai tambah bagi perusahaan," kata Dody. Ia menambahkan, Asei tetap optimistis terhadap prospek bisnis yang ditopang pengelolaan risiko secara disiplin dan kinerja
underwriting yang sehat.
Baca Juga: Asuransi Asei Perkuat Bisnis Ritel lewat Digitalisasi dan Diversifikasi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News