RoE Bank Besar Bergerak Variatif di Kuartal I-2026, Ini Bank yang Paling Cuan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kemampuan perbankan dalam menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham, yang diukur melalui rasio Return on Equity (RoE) terlihat menurun pada kuartal I-2026, terlihat mayoritas bank di jajaran KBMI 3 yang mencatatkan peningkatan RoE.

Rasio RoE merupakan indikator penting bagi pemegang saham dan calon investor untuk menilai kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang berhubungan dengan pembayaran dividen.

Di jajaran kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 hanya penurunan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mencatatkan peningkatan RoE di Maret ini. Sedangkan RoE PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (BMRI) mencatatkan penurunan.


Baca Juga: Tiket Pesawat Naik, Permintaan Asuransi Perjalanan Oona Insurance (ABDA) Terdampak

ROE BBRI naik secara tahunan dari 17,10% di Maret 2025 ke 18,40% di Maret 2026, kemudian  ROE BBNI naik dari 13,3% ke 13,6%.

Adapun BBCA masih menjadi bank yang paling besar memberi keuntungan kepada pemegang sahamnya karena RoE-nya tertinggi di antara bank lain. Namun ROE nya terlihat turun dari 26,2% ke 25,10% di Maret 2026.

Sementara BMRI mencatatkan penurunan ROE ke level 19,10% di Maret 2026 dari 19,3% di Maret 2025.

Berbeda dengan kelompok bank KBMI 3, mayoritas mencatat peningkatan RoE pada kuartal I-2026. Dari enam bank yang telah merilis laporan keuangan, tiga bank mencatatkan peningkatan ROE, tiga bank lain mencatatkan penurunan ROE.

Adapun, bank dengan kenaikan RoE di KBMI 3, diantaranya adalah:

  1. PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN): naik dari 7,2% menjadi 9,0%.
  2. PT Bank Permata Tbk (BNLI): naik dari 6,1% menjadi 6,7%.
  3. PT Bank Mega Tbk (MEGA): naik dari 10,39% menjadi 11,11%.
Sementara bank KBMI 3 yang mengalami penurunan RoE antara lain:

  1. PT Bank Tabungan Negara (BTN): turun dari 12,5% ke 12,4%.
  2. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA): turun dari 14% menjadi 12,7%.
  3. PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP): turun dari 12,93% menjadi 12,52%.
Setiyo Wibowo, Direktur Risk Management BTN pun menyampaikan, kendati secara tahunan alami penurunan namun kalau dilihat secara kuartalan memang sudah berangsur membaik. Pada 2025 ROE BTN berada di level 11,7%.

Baca Juga: Jamkrida Sumbar Ungkap Kendala Kembangkan Produk Penjaminan Baru

"Tahun ini kami targetkan ROE akan dicapai antara 13%-14%," ucap Setiyo kepada kontan.co.id.

Menurut Setiyo, target tersebut akan dikejar melalui sejumlah langkah strategis. BTN berfokus menurunkan biaya dana (cost of fund) dengan mendorong pertumbuhan dana ritel serta memperkuat aktivasi digital banking.

Selain itu, BTN juga akan menumbuhkan portofolio kredit dengan margin tinggi, sekaligus melakukan efisiensi biaya operasional lewat otomasi dan digitalisasi proses bisnis.

“Dengan strategi tersebut, kami optimistis profitabilitas BTN akan terus meningkat secara berkelanjutan,” imbuh Setiyo.

Sementara Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan bahwa, penurunan RoE lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan Capital Adequacy Ratio (CAR). Namun menurutnya ada juga unsur revenue.

"Guidance kami sampai akhir tahun RoE tetap di 14%-15%. Dengan CAR di 22%-24%," katanya.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, sentimen terjadinya penurunan RoE adalah tertahannya pertumbuhan laba akibat dari peningkatan beban CKPN.

"Prospek tahun ini secara umum bila laba masih belum menunjukkan peningkatan maka ROE masih akan tertekan," ucap Trioksa.

Baca Juga: Indonesia Gadai Oke: Digitalisasi Berperan Penting Dalam Menjalankan Proses Bisnis

Menurut Trioksa, yang perlu diperhatikan bank adalah terkait efisiensi operasional, menjaga likuiditas dan mendorong fee based income sebagai katalisator laba selain dari bunga pinjaman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News