RoI Dana Pensiun Naik Jadi 2,12% per Agustus 2026, Ini Penjelasan ADPI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Return on Investment (RoI) industri dana pensiun mengalami kenaikan per Agustus 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, RoI dana pensiun sempat mengalami tekanan atau menurun dari sebesar 0,51% per Mei 2026, menjadi sebesar 0,02% per Juni 2026.

Namun, kondisi RoI dana pensiun menunjukkan peningkatan menjadi sebesar 0,95% per Juli 2026. Angkanya kembali meningkat per Agustus 2026 dengan nilai mencapai 2,12%.

Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) menilai ada sejumlah penyebab RoI industri dana pensiun mengalami kenaikan. Humas ADPI Syarifudin Yunus menerangkan salah satunya dipicu kenaikan harga saham dan obligasi, penerimaan kupon obligasi, serta pendapatan bunga deposito.


"Ditambah, adanya realisasi keuntungan dari penjualan aset investasi," ujarnya kepada Kontan, Senin (26/10/2026).

Baca Juga: Bank Mandiri Beri Plafon Kredit ke Jhonlin Rp 40 Triliun, Begini Kata Analis

Namun, Syarifudin mengatakan perlu dilihat juga data kinerja masing-masing instrumen di setiap dana pensiun. Lebih lanjut, dia bilang pasar modal yang volatil belakangan ini juga perlu menjadi perhatian industri dana pensiun.

Syarifudin menerangkan pasar modal yang volatil tentu menjadi tantangan yang makin besar bagi industri dapen untuk meningkatkan RoI. Untuk saham, dia menyebut peluang dapat dipertimbangkan pada emiten berfundamental kuat, memiliki arus kas dan laba yang stabil, rutin membagikan dividen, serta valuasi yang wajar.

"Strateginya harus bertahap menyesuaikan dengan likuiditas, batas investasi, serta kewajiban pembayaran manfaat pensiun. Jangan hanya mengejar RoI, tetapi dana pensiun perlu fokus pada investasi yang sehat, aset tetap aman, dan mampu bayar manfaat ke peserta," ungkapnya.

Selain itu, Syarifudin menerangkan ditahannya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate di level 5,75% juga dapat memengaruhi kinerja RoI dana pensiun. Dia mengatakan BI Rate dapat memengaruhi imbal hasil deposito, obligasi, dan valuasi saham.

"Untuk stabilitas pasar oke, tetapi dampaknya bergantung pada pergerakan imbal hasil pasar, harga obligasi, dan komposisi portofolio masing-masing dana pensiun," tuturnya.

Baca Juga: BSI (BRIS) Siapkan Buyback Saham dengan Anggaran Maksimal Rp 500 Miliar

Dengan demikian, Syarifudin mengatakan faktor volatilitas pasar global, ketidakpastian suku bunga, pelemahan Rupiah, serta fluktuasi harga saham, dan Surat Berharga Negara (SBN) dapat menekan hasil investasi. Meski demikian, dia menyampaikan peluang peningkatan RoI tetap terbuka ke depannya melalui pengelolaan portofolio yang disiplin dan diversifikasi.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi perubahan RoI dana pensiun.

"Faktornya, yakni dipengaruhi kondisi pasar dan strategi investasi masing-masing dana pensiun dalam mengelola portofolio," ucapnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Rabu (21/10).

Melihat data tersebut, Ogi optimistis masih terdapat ruang peningkatan RoI dana pensiun hingga akhir 2026. Dia juga sempat menyampaikan bahwa OJK terus mendorong dana pensiun untuk menerapkan prinsip kehati-hatian, pengelolaan aset dan liabilitas yang baik, serta melakukan diversifikasi investasi sesuai profil risiko dan ketentuan yang berlaku

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News