KONTAN.CO.ID - Regulator penerbangan Amerika Serikat memerintahkan perusahaan antariksa milik miliarder Jeff Bezos, Blue Origin, untuk menyelidiki kegagalan tahap atas (
upper-stage) roket New Glenn setelah peluncuran satelit yang bermasalah pada akhir pekan lalu di Florida. Mengutip
Reuters, perintah tersebut dikeluarkan oleh Federal Aviation Administration (FAA) pada Senin (20/4/2026). Insiden ini menjadi pukulan bagi ambisi Blue Origin untuk bersaing lebih ketat dengan SpaceX milik Elon Musk, yang saat ini memimpin pasar layanan peluncuran roket global.
Baca Juga: Pangkalan Militer AS di Filipina Terbatas, Ini Penyebab Utamanya! Dalam arahan tersebut, FAA mewajibkan Blue Origin melakukan investigasi menyeluruh atas insiden (mishap) dan mendapatkan persetujuan regulator sebelum kembali melanjutkan penerbangan roket New Glenn. FAA juga harus memastikan tidak ada risiko terhadap keselamatan publik dari sistem atau prosedur yang digunakan. Peluncuran roket dua tahap New Glenn pada Minggu berjalan sebagian sukses. Booster tahap pertama berhasil lepas landas dari Cape Canaveral dan mendarat kembali dengan selamat di Bumi. Namun, tahap atas gagal mengantarkan muatan ke orbit yang ditargetkan. Satelit komunikasi milik AST SpaceMobile tetap terlepas ke luar angkasa, tetapi berada pada ketinggian orbit yang tidak mencukupi. Data awal menunjukkan salah satu dari dua mesin BE-3U yang digunakan pada tahap atas tidak menghasilkan dorongan (
thrust) yang cukup.
Baca Juga: Jepang Longgarkan Aturan Ekspor Senjata, Buka Peluang Masuk Pasar Global CEO Blue Origin Dave Limp menyatakan bahwa perusahaan akan memimpin investigasi anomali tersebut di bawah pengawasan FAA untuk mempercepat perbaikan dan kembali ke operasi normal. Sementara itu, satelit BlueBird 7 milik AST yang gagal mencapai orbit dilaporkan telah masuk kembali ke atmosfer pada Senin dan kemungkinan terbakar tanpa menimbulkan dampak. Misi ini merupakan bagian dari upaya membangun jaringan broadband berbasis satelit yang dapat terhubung langsung dengan ponsel, serupa dengan proyek milik Amazon dan konstelasi Starlink milik SpaceX.
Didirikan pada tahun 2000, Blue Origin sebelumnya dikenal lewat layanan wisata luar angkasa menggunakan roket suborbital New Shepard. Namun, perusahaan mengumumkan pada Januari lalu bahwa mereka akan menghentikan sementara bisnis tersebut selama dua tahun untuk fokus pada peluncuran komersial dan pengembangan pendarat bulan untuk NASA.
Baca Juga: Rio Tinto Waspadai Risiko Rantai Pasok Timteng, Penjualan Bijih Besi Kuartal I Naik Peluncuran New Glenn menjadi krusial dalam strategi Blue Origin untuk menyaingi roket Falcon 9 milik SpaceX. Roket setinggi sekitar 29 lantai ini dinamai dari John Glenn, astronot Amerika pertama yang mengorbit Bumi. Misi New Glenn 3 ini juga berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas sektor antariksa global, termasuk keberhasilan misi Artemis II yang membawa empat astronaut terbang lebih dari 252.000 mil dari Bumi—jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia.