KONTAN.CO.ID - China mengonfirmasi peluncuran roket Long March 7A yang membawa satelit ChinaSat-4B gagal setelah terjadi anomali saat penerbangan, Senin (10/8/2026). Roket tersebut diluncurkan dari Wenchang Space Launch Site di Provinsi Hainan, China selatan, pada pukul 20.02 waktu Beijing atau 12.02 GMT.
Baca Juga: Nvidia Gaet Raksasa Wall Street, Siapkan Dana US$ 500 Miliar untuk Infrastruktur AI Kantor berita pemerintah China, Xinhua, melaporkan misi tersebut tidak berhasil. Penyebab kegagalan masih dalam proses analisis dan investigasi. Video peluncuran menunjukkan roket hancur pada ketinggian dan kecepatan yang relatif rendah. Dengan kondisi tersebut, satelit maupun puing-puing roket diperkirakan tidak mencapai orbit. "Roket memang sangat sulit," tulis CEO SpaceX Elon Musk dalam komentarnya di platform X terkait kegagalan peluncuran tersebut. Musk juga berharap China dapat segera memulihkan program peluncurannya. Jonathan McDowell, profesor kehormatan di Durham University sekaligus anggota Center for Space Environmentalism mengatakan, berdasarkan rekaman peluncuran, roket tersebut hancur sepenuhnya pada fase awal penerbangan.
Baca Juga: Investor Ritel Mulai Jual Saham SpaceX di Bawah Harga IPO, Ada Apa? Kegagalan Pertama Sejak 2020 Kegagalan pada Senin menjadi kegagalan pertama Long March 7A sejak penerbangan perdananya pada Maret 2020. Saat itu, kerusakan ketika penerbangan juga menyebabkan misi gagal. Roket tersebut kembali beroperasi setahun kemudian dan telah menyelesaikan lebih dari selusin peluncuran dengan sukses sebelum insiden terbaru, berdasarkan catatan peluncuran China. ChinaSat-4B atau Zhongxing-4B merupakan satelit yang diluncurkan menggunakan Long March 7A. Laporan China National Radio yang kemudian dihapus dari halaman yang di-hosting mesin pencari Baidu sebelumnya mengidentifikasi muatan dan jenis roket tersebut. ChinaSat-4B disebut merupakan bagian dari seri yang sama dengan ChinaSat-4A, yang diluncurkan pada 2024. Berdasarkan penilaian Reuters terhadap informasi yang tersedia, China sebelumnya menyebut ChinaSat-4A digunakan untuk menyediakan layanan transmisi suara, data, radio dan televisi. Satelit komunikasi yang ditempatkan di orbit tinggi seperti itu dapat digunakan untuk menyalurkan siaran dan layanan telekomunikasi dalam wilayah yang luas, termasuk daerah terpencil yang tidak terjangkau jaringan terestrial. Namun, belum diketahui apakah ChinaSat-4B memiliki fungsi, pelanggan, atau kemampuan yang sama dengan ChinaSat-4A. Long March 7A sendiri merupakan roket kelas menengah yang dirancang untuk misi menuju orbit tinggi.
Baca Juga: AS Perkuat Rantai Pasok, Investasi Asing di Sektor Manufaktur Meningkat Bisa Berdampak ke Misi Bulan China Kegagalan tersebut berpotensi memicu pemeriksaan terhadap peluncuran roket China lainnya apabila investigasi menemukan masalah yang berkaitan dengan komponen, proses manufaktur, atau operasional di Wenchang. Hal ini menjadi perhatian karena China tengah mempersiapkan misi Chang'e-7 dari lokasi peluncuran yang sama. China secara resmi menargetkan peluncuran Chang'e-7 pada paruh kedua 2026. Sejumlah pengamat peluncuran memperkirakan terdapat kemungkinan jendela peluncuran pada akhir Agustus.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil di Level Tertinggi Sepekan Selasa (11/8), Brent di US$87,81 Roket Long March 5 dan wahana antariksa untuk misi tersebut saat ini telah berada di Wenchang. Chang'e-7 dirancang untuk mengeksplorasi wilayah kutub selatan Bulan, termasuk kawah yang selalu berada dalam bayangan dan diperkirakan menyimpan es air. Meski sama-sama merupakan bagian dari keluarga roket Long March, Long March 5 yang akan digunakan untuk Chang'e-7 merupakan roket yang lebih besar dan berbeda dari Long March 7A.