KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Lesca Gadai Premier mencatatkan pertumbuhan volume transaksi yang positif pada paruh pertama 2026. Hingga semester I-2026,
outstanding (OS) perusahaan tumbuh sekitar 25% dibandingkan posisi penutupan akhir 2025. Direktur Utama Lesca Gadai Premier Bastian Purnama mengatakan, kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap layanan gadai barang mewah sebagai alternatif memperoleh pendanaan tanpa harus melepas kepemilikan aset. "Pada semester pertama tahun ini, volume transaksi menunjukkan tren yang sangat positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," ujarnya kepada Kontan, Kamis (29/7/2026).
Baca Juga: Gadai Rolex dan Hermes Meningkat, Apakah Kelas Atas RI Kian Tertekan? Selain itu, ia juga mengatakan bahwa perusahaan terus berupaya memperkuat strategi pemasaran melalui kanal digital, optimalisasi layanan nasabah secara daring, serta memperluas jaringan secara
offline melalui komunitas, kegiatan arisan, hingga dukungan pada berbagai acara. Menurutnya, minat masyarakat terhadap layanan gadai barang mewah saat ini terus meningkat. Pemilik aset mewah mulai memahami bahwa jam tangan, tas bermerek, emas, logam mulia, berlian, hingga kendaraan premium dapat dimanfaatkan sebagai sumber likuiditas tanpa harus dijual. Adapun kategori barang yang paling banyak digadaikan di perusahaan masih didominasi jam tangan mewah. Kemudian disusul tas mewah, berlian, logam mulia, dan mobil. Untuk jam tangan, merek yang paling banyak diterima antara lain Rolex, Patek Philippe, Audemars Piguet, Richard Mille, Omega, Cartier, dan Hublot. Sementara untuk tas mewah didominasi Hermès, Chanel, Louis Vuitton, Dior, Goyard, YSL, Gucci, hingga Loro Piana. Selain itu, sejak tiga bulan terakhir Lesca Gadai Premier juga mulai menerima gadai motor gede (moge) dan kartu koleksi Pokémon Trading Card Game (TCG). Menurut Bastian, kedua jenis agunan baru tersebut mendapat respons positif, terutama dari kalangan kolektor. Ia menegaskan, meningkatnya transaksi gadai barang mewah bukan berarti kalangan menengah atas sedang mengalami tekanan keuangan. Menurutnya, fenomena tersebut lebih mencerminkan perubahan pola pengelolaan aset.
Baca Juga: QRIS Tap Diperluas, Pembayaran Transportasi Publik Kian Terintegrasi "Tidak sedikit nasabah yang menggunakan fasilitas gadai bukan karena mengalami kesulitan finansial, melainkan untuk kebutuhan bisnis, memanfaatkan peluang investasi, kebutuhan modal kerja, ataupun kebutuhan jangka pendek lainnya," katanya. Ke depan, Bastian optimistis industri gadai barang mewah masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Seiring meningkatnya literasi masyarakat mengenai pengelolaan aset, layanan gadai dinilai akan semakin dipandang sebagai instrumen pengelolaan likuiditas yang praktis, aman, dan efisien, bukan lagi sebagai pilihan terakhir ketika membutuhkan dana. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News