Rosan: Kontribusi Investasi Hilirisasi Naik Jadi 35%, 75% Terealisasi di Luar Jawa



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mencatat kontribusi investasi hilirisasi terhadap total realisasi investasi nasional terus meningkat.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut porsi investasi hilirisasi kini mencapai 35% dari total investasi.

Rosan mengatakan, porsi tersebut meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, kontribusi investasi hilirisasi tercatat sekitar 25% dari total investasi yang masuk ke Indonesia.


“Dalam dua tahun terakhir ini yang tadinya kontribusi hilirisasi 25%, sudah mencapai 35% dari total investasi yang masuk,” ujar Rosan dalam acara groundbreaking 11 ekosistem hilirisasi nikel dan ekspor perdana baterai kendaraan listrik di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, Kamis (8/10/2026).

Baca Juga: Ada Subsidi Biaya Haji Rp 3,2 Juta, Komnas Haji Ingatkan Perlu Dasar Hukum yang Jelas

Menurut Rosan, investasi hilirisasi juga semakin banyak mengalir ke luar Pulau Jawa. Lebih dari 75% realisasi investasi hilirisasi tercatat berada di luar Jawa.

Adapun secara keseluruhan, realisasi investasi Indonesia pada semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama dan menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja.

Rosan menilai perkembangan tersebut menunjukkan arah investasi Indonesia mulai bergerak dari sekadar eksploitasi sumber daya alam menuju pembangunan basis industri. Salah satunya terlihat di Maluku Utara yang kini mulai berkembang menjadi kawasan industri pengolahan berbasis nikel.

“Provinsi ini tidak lagi sekadar daerah tambang, tapi telah menjadi daerah industri,” kata Rosan.

Menurut dia, industri pengolahan kini menyumbang hampir separuh terhadap produk domestik bruto (PDB) Maluku Utara. Perubahan struktur ekonomi tersebut juga tercermin dari peningkatan surplus perdagangan daerah.

Pada 2025, surplus perdagangan Maluku Utara mencapai Rp 31,1 triliun. Ekspor daerah tersebut didominasi produk olahan nikel, mulai dari ferronikel, nickel matte, mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat hingga kobalt.

Baca Juga: Perpres Ojol Terbit, Komdigi Siap Atur Biaya Antar Barang dan Makanan

Di kawasan IWIP sendiri, terdapat 10 proyek strategis dengan total nilai investasi mencapai US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun. Empat proyek senilai US$3,4 miliar telah rampung dan memasuki tahap komersialisasi serta ekspor.

Sementara itu, enam proyek lainnya dengan nilai investasi US$ 6,8 miliar mulai dibangun. Proyek tersebut mencakup material baterai berbasis nikel, separator baterai kendaraan listrik, elektrolit baterai, aluminium elektrolitik, alat berat berbasis listrik, hingga photovoltaic glass untuk industri energi surya.

Dari keseluruhan proyek tersebut, Rosan memperkirakan akan tercipta lebih dari 10.000 lapangan pekerjaan baru.

Rosan menambahkan, pengembangan kawasan industri tersebut juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik. Menurutnya, ekosistem yang dibangun tidak berhenti pada pengolahan nikel, tetapi mulai mencakup produksi baterai hingga daur ulang baterai.

“Jadi ini akan menjadikan the whole ecosystem sudah ada di sini. Kita akan jadi rantai pasok global baterai kendaraan listrik,” ujarnya.

Sejak 2018, IWIP telah menyerap investasi sekitar US$ 20 miliar. Dengan tambahan investasi yang akan masuk, total investasi di kawasan tersebut diproyeksikan mencapai US$ 27 miliar dengan total penyerapan tenaga kerja sekitar 117.000 orang.

Rosan menyebut ekspor dari IWIP selama ini telah mencapai US$ 11 miliar. Jika digabungkan dengan kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), total ekspor kedua kawasan industri tersebut mencapai sekitar US$ 28 miliar atau setara 10% dari total ekspor Indonesia.

Menurut Rosan, besarnya skala industri di kawasan IWIP dan IMIP juga tercermin dari kebutuhan energinya. Kapasitas listrik yang telah terpasang dan sedang dibangun di IWIP mencapai lebih dari 7,1 gigawatt (GW).

Jika digabungkan dengan kapasitas di Morowali sekitar 8,8 GW, totalnya mencapai 15,9 GW. Kapasitas tersebut bahkan lebih besar dibandingkan total konsumsi listrik Singapura yang disebut Rosan mencapai sekitar 13,1 GW.

Perkembangan kawasan industri tersebut, lanjut Rosan, juga diikuti program pemberdayaan masyarakat. Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) telah menjangkau 32 desa di sekitar kawasan industri dan tambang dengan total belanja lebih dari Rp 650 miliar.

“Ujungnya adalah industrialisasi,” tegas Rosan.

Ia menambahkan, pemerintah melalui Danantara juga membuka peluang pengembangan investasi lanjutan di sektor energi terbarukan. Tsingshan disebut telah berkontribusi dalam pembangunan kapasitas pembangkit tenaga surya dan tengah berdiskusi dengan Danantara untuk berpartisipasi dalam program pembangunan 100 GW panel surya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News