RSM Bentuk China Desk, Bidik Investor China



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arus investasi asal China ke Indonesia yang terus mengalir membuka peluang bagi jasa konsultasi profesional. Untuk menangkap peluang tersebut, RSM Indonesia bekerja sama dengan RSM China membentuk China Desk guna mendampingi perusahaan asal Tiongkok yang berinvestasi dan menjalankan bisnis di Indonesia.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di China, pada 3 November 2026. MoU ditandatangani oleh Chief Strategy Officer sekaligus Senior Partner RSM Indonesia Angela Indirawati Simatupang dan Managing Partner International Business RSM China Deng.

Langkah ini menyasar besarnya investasi China di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi asal China mencapai sekitar US$ 3,9 miliar pada semester I 2026. Angka tersebut menempatkan China sebagai investor terbesar ketiga setelah Singapura dan Hong Kong.


Jika digabungkan, investasi China dan Hong Kong mencapai sekitar US$ 11,7 miliar pada periode yang sama.

Meski peluang bisnis terbuka lebar, investor China masih menghadapi sejumlah tantangan dalam menjalankan usaha di Indonesia. Tantangan tersebut antara lain perubahan regulasi perizinan, ketentuan modal minimum perusahaan penanaman modal asing (PMA), administrasi perpajakan melalui Coretax, hingga aturan pelindungan data pribadi.

Perbedaan standar pelaporan, jadwal pemenuhan kewajiban, serta kendala bahasa antara kantor pusat di China dan operasional di Indonesia juga dapat memperlambat pengambilan keputusan bisnis.

Baca Juga: AS Penyumbang Surplus Dagang Terbesar, China Defisit Terdalam hingga September 2026

Chief Strategy Officer dan Senior Partner RSM Indonesia Angela Indirawati Simatupang mengatakan, investor China tidak hanya membutuhkan pemahaman tentang peluang pasar Indonesia, tetapi juga kepastian dalam menjalankan bisnis. Tantangan utamanya terletak pada proses perizinan, perbedaan standar pelaporan, serta koordinasi antara kantor pusat dan tim lokal.

“Investor China tidak hanya membutuhkan pemahaman tentang peluang pasar Indonesia, tetapi juga kepastian dalam menjalankan bisnis. Tantangan utamanya terletak pada proses perizinan, perbedaan standar pelaporan, serta koordinasi antara kantor pusat dan tim lokal,” ujar Angela dalam keterangan resmi, Kamis (5/11/2026).

Melalui China Desk, RSM menyediakan satu pintu komunikasi berbahasa Mandarin untuk menghubungkan kantor pusat perusahaan di China dengan tim operasional di Indonesia. Adapun layanan profesional, seperti audit, perpajakan, business and corporate services, serta konsultasi bisnis, tetap ditangani RSM Indonesia.

Chairman dan Chief Executive Partner RSM Indonesia Amir Abadi Jusuf menambahkan, kerja sama ini memperkuat layanan RSM dalam mendampingi investasi lintas negara. RSM China akan menjadi penghubung bagi klien, sementara seluruh pekerjaan profesional di Indonesia tetap ditangani tim lokal yang memahami regulasi dan praktik bisnis domestik.

Chief Executive Partner RSM China Liu Wei mengatakan, semakin banyak klien RSM China yang memperluas bisnis ke Indonesia. Kerja sama ini diharapkan membantu perusahaan menjaga kesinambungan pendampingan dari kantor pusat hingga kegiatan operasional di Indonesia.

Sebagai informasi, RSM Indonesia telah beroperasi lebih dari 40 tahun di Indonesia. Perusahaan jasa profesional ini memiliki lebih dari 1.000 tenaga profesional dan 40 partner yang tersebar di kantor Jakarta dan Surabaya.

Baca Juga: OECD Proyeksikan Ekonomi Indonesia 5,2% pada 2026, China Hanya 4,5%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News