Ruang Kosong Perkantoran di Jakarta Capai 3 Juta Meter Persegi hingga Kuartal II-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar perkantoran di Jakarta masih dibayangi tingginya tingkat ruang kosong. Hingga kuartal II-2026, Colliers Indonesia mencatat total ruang perkantoran yang belum terisi di Jakarta mencapai sekitar 3 juta meter persegi.

Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto, memerinci bahwa ruang kosong di kawasan central business district (CBD) mencapai 1,76 juta meter persegi. Sementara itu, ruang kosong di luar CBD tercatat sebesar 1,23 juta meter persegi.

Di kawasan CBD, ruang kosong paling banyak berada di area Sudirman dengan kontribusi sebesar 39%. Posisi berikutnya ditempati kawasan Gatot Subroto dan Rasuna Said yang masing-masing menyumbang 18% dan 16% dari total ruang kosong di CBD.


Sementara itu, di luar kawasan CBD, Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan kontribusi ruang kosong terbesar, yakni mencapai 43%. Mayoritas ruang kosong di kawasan tersebut berasal dari gedung perkantoran kelas B.

Baca Juga: Ini Putusan WTO Atas Sengketa Bea Anti-Dumping Indonesia dengan Uni Eropa

Menurut Ferry, kondisi tersebut menciptakan pasar yang menguntungkan bagi penyewa atau tenant-driven market, karena perusahaan memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan lokasi kantor.

Situasi ini juga mendorong banyak perusahaan memanfaatkan momentum untuk berpindah ke gedung yang lebih modern, lebih efisien, serta memiliki akses yang lebih baik terhadap transportasi publik.

"Ini semata-mata bukan hanya sebagai tantangan bagi pemilik gedung, justru jadi kesempatan untuk perusahaan-perusahaan melakukan relokasi ke gedung dengan kualitas yang lebih baik tanpa harus meningkatkan biaya hunian secara signifikan," jelas Ferry dalam media briefing secara virtual, Rabu (8/7/2026).

Di sisi lain, Colliers menilai pengembang kini lebih selektif dalam menghadirkan proyek perkantoran baru. Alih-alih menambah pasokan, banyak pengembang memilih melakukan renovasi dan meningkatkan kualitas gedung yang telah ada.

Strategi tersebut dinilai dapat membantu pasar menyerap ruang kosong secara bertahap sekaligus menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan dalam beberapa tahun mendatang.

Selain itu, preferensi penyewa juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya perusahaan lebih mengutamakan harga sewa dan lokasi, kini pertimbangan dalam memilih kantor menjadi lebih beragam.

Baca Juga: PLN Tambah Pasokan Batubara, Perhapi Minta Pemerintah Jamin Distribusi ke PLTU

Colliers mencatat, perusahaan kini semakin memperhatikan kualitas gedung, terutama yang menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) atau konsep green building.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan meliputi insentif dan fleksibilitas skema sewa, kedekatan dengan transportasi umum, hingga ketersediaan ruang kantor siap pakai yang dapat mengurangi biaya fit-out.

Dari sisi harga, pemulihan tarif sewa perkantoran juga terus berlangsung secara bertahap. Pada kuartal II-2026, rata-rata tarif dasar sewa di kawasan CBD mencapai Rp 218.759 per meter persegi per bulan.

Colliers memperkirakan tarif tersebut masih berpotensi meningkat hingga mencapai sekitar Rp 223.331 per meter persegi per bulan pada akhir 2026.

Sementara itu, dari sisi pasokan, Ferry menyebut total stok ruang perkantoran di Jakarta hingga kuartal II-2026 relatif stabil di kisaran 11 juta meter persegi. Sebanyak 65% dari total pasokan tersebut berada di kawasan CBD, yang masih menjadi pusat aktivitas bisnis di ibu kota.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News