Ruang Kredit Bakal Makin Lebar, Kualitas Aset Tetap Dijaga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ruang penyaluran kredit perbankan semakin terbuka. Namun, di tengah standar kredit yang mulai melonggar dan pertumbuhan kredit yang terus menguat, bank tetap memperkuat manajemen risiko untuk menjaga kualitas aset. Hasil Survei Perbankan BI Triwulan II-2026 menunjukkan, bank memperkirakan standar penyaluran kredit pada kuartal III-2026 akan lebih longgar. Hal ini tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang turun menjadi minus 2,25 pada kuartal III-2026, dari 1,03 pada kuartal II-2026. Bank Indonesia (BI) pun masih memperkirakan kredit perbankan tumbuh 8%-12% sepanjang 2026. Prospek tersebut ditopang oleh likuiditas perbankan yang memadai, pelonggaran kebijakan makroprudensial, serta potensi permintaan pembiayaan yang masih besar. Hingga Juni 2026, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 12,67% secara tahunan (year on year/YoY), meningkat dari 11,51% pada Mei 2026.

Baca Juga: Kredit UMKM Mulai Bergerak, Tapi Masih Tertinggal Laju Pertumbuhan Kredit Perbankan Sementara itu, kualitas aset perbankan hingga Mei 2026 masih terjaga. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross sebesar 2,17%, sedangkan NPL net berada di level 0,84%. Di tengah kondisi tersebut, PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) melihat potensi tekanan terhadap kualitas aset masih dapat dikelola. Hingga Mei 2026, NPL net Amar Bank tercatat 0,87%, membaik dari 2,03% pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan kualitas aset tersebut terjadi saat kredit bruto Amar Bank tumbuh 23,76% secara tahunan menjadi Rp4,23 triliun. SVP Finance Amar Bank Indonesia David Wirawan mengatakan, perseroan berkomitmen menjaga NPL net di kisaran 1% hingga akhir 2026. "Amar Bank menilai potensi tekanan terhadap kualitas aset masih dapat dikelola dengan baik melalui mitigasi risiko yang kuat," kata David. Untuk menjaga kualitas aset, Amar Bank memperkuat manajemen risiko sejak proses seleksi nasabah, underwriting, pemantauan portofolio hingga penagihan. Langkah ini juga didukung pemanfaatan analitik data dan machine learning serta optimalisasi kebijakan pencadangan (CKPN). Per Mei 2026, rasio kecukupan modal (CAR) Amar Bank tercatat 98,60%.

Baca Juga: OJK: Kredit Menganggur Perbankan Bukan Cerminan Lemahnya Permintaan Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga tetap menjaga prinsip kehati-hatian di tengah ekspansi kredit. Per Mei 2026, kredit BCA secara bank only mencapai Rp969 triliun. Executive Vice President Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn mengatakan, BCA menyalurkan kredit ke berbagai segmen dan sektor secara pruden dan selektif dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan disiplin manajemen risiko. "Kami senantiasa mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta memperkuat proses credit scoring dan monitoring, dalam rangka menjaga kualitas pembiayaan," ujar Hera. BCA juga proaktif melakukan pendekatan kepada nasabah untuk menghindari potensi munculnya NPL. Hingga kini, Hera menyebut kualitas kredit BCA tetap terjaga.


Baca Juga: Permintaan Kredit Belum Pulih, Kredit Menganggur Perbankan Masih Menumpuk

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News