KONTAN.CO.ID - Peluang Ketua Federal Reserve yang diusulkan Presiden Donald Trump, Kevin Warsh untuk segera memangkas suku bunga semakin menipis. Investor dan analis mempertanyakan sejauh mana Warsh dapat mendorong rekan-rekannya di The Fed menurunkan biaya pinjaman, terutama jika gejolak harga minyak akibat konflik Iran terus berlanjut. Outlook yang volatil terlihat pada Jumat (13/3/2026), dengan laporan data ekonomi yang saling tarik-menarik.
Baca Juga: Konferensi Kripto TOKEN2049 di Dubai Ditunda hingga 2027 di Tengah Konflik Iran Indikator inflasi utama pada Januari masih berada lebih dari satu poin persentase di atas target The Fed sebesar 2%, sementara pertumbuhan ekonomi pada kuartal akhir tahun lalu direvisi jauh lebih lambat, hanya mencapai 0,7% secara tahunan. Meski sejumlah negara maju melepaskan cadangan minyak mereka, harga minyak acuan Brent tetap mendekati US$100 per barel pada Jumat, masih tinggi akibat serangan Iran terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, penutupan infrastruktur minyak di kawasan, serta retorika Trump yang berubah-ubah, dari sinyal cepat mengakhiri serangan AS-Israel terhadap Iran hingga tuntutan “penyerahan tanpa syarat” terhadap rezim Iran. Investor bereaksi cepat, sempat hampir meniadakan ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed tahun ini, sebelum kembali memperkirakan kemungkinan penurunan pada musim gugur nanti.
Baca Juga: Trump Ancam Hantam Iran Lebih Keras Pekan Depan, Selat Hormuz Kian Mencekam Dampak Harga Minyak ke Inflasi dan Konsumen Lonjakan harga minyak telah mendorong inflasi energi, termasuk harga bensin yang naik menjadi US$3,63 per galon dari kurang dari US$3 sebelum konflik, serta kenaikan bunga hipotek 30-tahun menjadi 6,11%. Hal ini menjadi tantangan bagi janji Trump untuk menekan defisit AS dan mendukung pengeluaran konsumen. Ekonom mencatat bahwa gangguan pasokan komoditas seperti minyak biasanya bersifat sementara. Namun, harga minyak yang tetap tinggi berdampak luas: menaikkan harga bensin, solar, tiket pesawat, hingga bahan pangan, termasuk pupuk. Dengan inflasi yang diperkirakan tetap di atas target The Fed 2%, para pembuat kebijakan khawatir kredibilitas mereka terancam jika menurunkan suku bunga di tengah lonjakan harga.
Baca Juga: Macron Sebut Pelonggaran Sanksi Minyak Rusia oleh AS Hanya Sementara The Fed Cenderung Menunggu Respons The Fed akan bergantung pada skala, cakupan, dan durasi gejolak harga minyak, kata Vincent Reinhart, kepala ekonom di BNY Investments. Efek kenaikan biaya energi menyebar kompleks di seluruh ekonomi, memengaruhi pola pengeluaran konsumen dan ekspektasi pertumbuhan. Data awal survei konsumen University of Michigan menunjukkan, ekspektasi inflasi yang membaik sempat terhenti setelah perang Iran dimulai, dengan konsumen memperkirakan harga akan terus naik. Pertemuan The Fed berikutnya kemungkinan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%-3,75%, dengan fokus pada bahasa pernyataan kebijakan baru, outlook yang lebih rinci dari Ketua Fed Jerome Powell, dan proyeksi ekonomi terbaru.
Baca Juga: Filipina Siapkan Intervensi Pasar Listrik Saat Harga LNG Melonjak Pasar Masih Waspada
Sejak perang dimulai, beberapa tanda awal menunjukkan konsumen menyesuaikan diri dengan harga bensin tinggi, misalnya berbelanja lebih banyak dari e-commerce atau mengatur jarak perjalanan. Namun, belum terlihat penurunan pengeluaran yang signifikan. Data dari CME Group FedWatch memperlihatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga Warsh yang semula diperkirakan pada pertemuan pertama bulan Juni kini mundur ke musim gugur, dengan pemangkasan berikutnya kemungkinan baru terjadi akhir 2027. Selain inflasi yang tetap tinggi, pejabat The Fed juga mempertimbangkan data pasar tenaga kerja yang menunjukkan penurunan 92.000 pekerjaan pada Februari, menandakan potensi kelemahan ekonomi. Ekonom Luke Tilley dari Wilmington Trust menilai, meski The Fed kemungkinan masih bersikap hati-hati, kelemahan ekonomi nyata nantinya akan memaksa serangkaian pemangkasan suku bunga tahun ini, terutama karena pertumbuhan pekerjaan terkonsentrasi di sektor kesehatan.