Ruang pelonggaran moneter BI kian sempit



JAKARTA. Ekonom sekaligus Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, ruang pelonggaran moneter Bank Indonesia (BI) ke depan semakin terbatas. Hal tersebut terkait terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).

Menurut Chatib, rencana ekspansi fiskal melalui pembangunan infrastruktur dan keinginan mengurangi pajak dalam pemerintahan Trump, berpotensi membuat defisit anggaran AS membengkak. Jika untuk membiayai defisit tersebut pemerintah AS melakukan penerbitan obligasi pemerintah, maka AS akan meningkatkan suku bunganya.

Hal tersebut, lanjut dia, memungkinkan Bank Sentral AS (The Fed) mengerek suku bunga pada tahun depan. Chatib memperkirakan, pada akhir tahun ini, The Fed urung menaikkan suku bunga, lantaran dollar AS mengalami penguatan terhadap seluruh mata uang.


Dengan demikian, kenaikan suku bunga AS di tahun depan akan dilakukan lebih ekspansif. Chatib meramal, Gubernur The Fed Janet Yellen akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis points (bps) di kuartal pertama tahun depan.

"Sehingga pelonggaran suku bunga BI hampir tidak ada. Bahkan mungkin tahun depan mulai naikkan bunga dan harus dilakukan untuk menjaga stabilitas," kata Chatib di JW Marriot Hotel, Rabu (7/12).

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengakui, meski pihaknya telah enam kali menurunkan suku bunganya sejak awal tahun, permintaan belum tentu meningkat pesat. Ia juga mengaku bahwa pelonggaran moneter dan makroprudensial ada batasanya.

Mirza juga mengakui, pelonggaran moneter dan makroprudensial yang telah dilakukan pihaknya hingga saat ini sudah cukup. Namun, terkait perkiraan ruang pelonggaran moneter ke depan yang semakin terbatas, ia mengatakan, "Bukan berarti tidak ada kebijakan lain, nanti dilihat," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini