KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi situasi geopolitik di Timur Tengah berdampak pada operasional penerbangan jemaah umrah asal Indonesia. Ketua DPP Kebersamaan Pengusaha Travel Haji dan Umroh (Bersathu), Farid Aljawi, mengungkapkan telah terjadi penutupan ruang udara (airspace) secara resmi di bandara utama seperti Doha dan Dubai. Farid menyatakan bahwa 13 asosiasi telah berkoordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah terkait kondisi ini.
Pihaknya menginstruksikan seluruh penyelenggara ibadah umrah untuk menyetorkan data akurat mengenai posisi jemaah yang masih berada di Tanah Suci maupun yang dalam proses kepulangan. "Kita menginstrusikan kepada seluruh penyelenggara ibadah Umrah yang memiliki izin untuk mengirimkan datanya kepada masing-masing asosiasi dan diteruskan kepada Kementerian Haji, sehingga data tersebut akurat. Data Jemaah yang masih berada di tanah suci, baik di Mekkah, Madinah maupun di Jeddah," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (2/3/2026). Farid mengungkapkan, data tersebut mencakup jemaah yang sudah melakukan kepulangan, yang baru mau terbang, hingga jadwal terbang ke Jakarta dengan batas waktu kepulangan 18 April 2026. Menurutnya, data ini menjadi acuan untuk memetakan maskapai mana yang masih bisa beroperasi dan mana yang terpaksa berhenti sementara. Dia merinci, saat ini penerbangan melalui Abu Dhabi dengan Emirates (Dubai), Etihad (Abu Dhabi), dan Qatar Airways (Doha) ditutup. Sementara itu, maskapai seperti Garuda Indonesia, Saudia, Lion Air, Hainan, dan Ethiopia Airlines dilaporkan masih bisa terbang. Terkait nasib jemaah yang tertahan atau sedang transit di luar negeri, Farid meminta campur tangan Kementerian Luar Negeri melalui Dirjen Perlindungan WNI. "Mereka itu yang ada di luar negeri dan transit, kita minta dari Kementerian Luar Negeri untuk mengevakuasi ke luar airport, yaitu ke hotel-hotel terdekat," tegasnya.
Langkah evakuasi ke hotel dianggap penting agar jemaah tidak terlantar berjam-jam di dalam bandara tanpa kepastian logistik. Adapun jemaah yang masih transit di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia diarahkan untuk kembali ke negara asalnya. Mengenai potensi kerugian materiil, Farid mengaku belum bisa melakukan penghitungan secara rinci karena situasi masih berlangsung. Ia menekankan bahwa kondisi saat ini merupakan
force majeure atau keadaan di luar kendali penyelenggara, maskapai, maupun pihak hotel. "Ini masih dalam tahapan bagaimana kita fokus tentang penyelamatan dan keselamatan jemaah umroh kita yang masih ada di Tanah Suci dan di beberapa negara transit," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News