Rubel Rusia Makin Perkasa Melawan Dolar, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID - MOSCOW. Pada Senin (31/5/2022), rubel menguat tajam dalam perdagangan yang bergejolak di Moscow Exchange. Penguatan rubel berhasil membalikkan kerugian besar yang dialami minggu lalu karena mempertahankan dukungan dari kontrol modal dan akun perdagangan Rusia yang kuat.

Mengutip Reuters, rubel keok pada pekan lalu karena bank sentral memangkas suku bunga. Hal ini menandakan akan ada lebih banyak lagi pemotongan suku bunga ke depannya. Selain itu, prospek pelonggaran kontrol modal dan kemungkinan default utang negara kian menambah tekanan atas rubel.

Data Reuters menunjukkan, pada Senin kemarin, rubel menguat sekitar 7% menjadi 61,92 terhadap dolar. Rabu lalu telah mencapai 55,80 terhadap dolar, level terkuat sejak Februari 2018, sebelum jatuh ke 66,70 pada akhir minggu.


Terhadap euro, rubel menguat hampir 9% 63,46, setelah Rabu lalu mencapai tertinggi tujuh tahun 57,10, di puncak pembayaran pajak akhir bulan yang biasanya mendorong perusahaan yang fokus pada ekspor untuk mengkonversi mata uang asing untuk memenuhi kewajiban.

"Gambaran fundamental keseluruhan untuk rubel tidak banyak berubah ... Kami tidak mengesampingkan pengembalian ke level 60-63 terhadap dolar," kata Dmitry Polevoy, kepala investasi di perusahaan LockoInvest.

Baca Juga: Rusia: Pembebasan Wilayah Donetsk & Luhansk di Ukraina adalah Prioritas Tanpa Syarat

Didorong oleh kontrol modal, rubel telah meningkat menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di dunia sepanjang tahun ini hingga penurunan minggu lalu. Persyaratan pembayaran gas baru untuk konsumen UE yang memerlukan konversi mata uang asing menjadi rubel dan penurunan impor juga mendukung rubel.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah OFZ dengan tenor 10-tahun, yang bergerak terbalik dengan harganya, turun sebentar menjadi 9,23%. Ini merupakan level terendah sejak 19 Januari, sebelum akhirnya menetap di level 9,48%. 

Baca Juga: Pasukan Ukraina Bertahan di Kota Donbas Dihujani Tembakan Artileri Berat Rusia

Mata pasar saat ini terfokus pada kemampuan Rusia untuk membayar utang luar negerinya setelah Amerika Serikat mendorongnya ke ambang default. Hal ini dipicu oleh aksi Washington yang meningkatkan tekanan menyusul apa yang disebut Rusia sebagai "operasi militer khusus" di Ukraina.

Sementara itu, Menteri Keuangan Anton Siluanov mengatakan kepada harian Vedomosti, Rusia berencana untuk menyelesaikan kewajiban Eurobondnya menggunakan mekanisme yang mirip dengan skema yang digunakan untuk membayar gas Rusia dalam rubel.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie