Rubio Bertemu Menlu China Wang Yi di Forum ASEAN, Bahas Persiapan KTT Trump-Xi



KONTAN.CO.ID - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Rabu (22/7/2026) di sela-sela pertemuan tingkat menteri yang dipimpin ASEAN di Manila, Filipina.

Melansir Reuters, pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas persiapan kemungkinan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang direncanakan berlangsung pada September mendatang.

Baca Juga: Trump Bebaskan Tarif Obat Generik Selama Dua Tahun, Setelah Itu Naik hingga 200%


Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi agenda pertemuan Rubio dan Wang Yi.

Pertemuan ini berlangsung di tengah hubungan AS-China yang masih rapuh, menyusul tuduhan Trump pekan lalu bahwa Beijing ikut campur dalam pemilu Amerika Serikat. Tuduhan tersebut telah dibantah oleh pemerintah China.

Forum ASEAN kali ini juga digelar ketika konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas serta meningkatnya ketegangan diplomatik antara China dan Filipina terkait insiden di Laut China Selatan yang membuat kedua negara saling memanggil duta besar masing-masing.

Sebelumnya pada Rabu pagi, Rubio menghadiri pertemuan para menteri luar negeri negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Baca Juga: Nikkei Naik Dua Hari Beruntun, Reli Saham Teknologi dan Chip Topang Bursa Jepang

Dalam forum tersebut, Rubio diperkirakan akan menegaskan kembali komitmen Washington untuk membela hak-hak maritim di Laut China Selatan dan memenuhi kewajiban keamanan Amerika Serikat terhadap sekutu-sekutunya di kawasan.

Dalam artikel opini yang diterbitkan media Filipina menjelang kedatangannya di Manila pada Selasa, Rubio mengkritik sikap China dan menyebut negara-negara Asia Tenggara tengah menghadapi "ancaman baru yang bersifat koersif".

Ia menegaskan Amerika Serikat berkomitmen menjaga kebebasan pelayaran di Laut China Selatan.

"Kebebasan itu sama sekali tidak terjamin. Jika perairan tersebut berada di bawah kendali negara yang bersedia menggunakan perdagangan sebagai senjata geopolitik, maka Amerika Serikat maupun negara-negara ASEAN akan menghadapi ancaman serius terhadap kedaulatan, keamanan, dan masa depan ekonomi mereka," tulis Rubio.

China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan melalui garis sembilan putus (nine-dash line) yang tumpang tindih dengan zona ekonomi eksklusif Filipina, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Klaim tersebut telah lama menjadi sumber sengketa di kawasan.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Naik 6% Rabu (22/7) Pagi, Reli Saham AI dan Chip Kembali Menguat

Di sela-sela pertemuan ASEAN, Wang Yi juga dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro, yang menjadi ketua forum tahun ini.

Hubungan Beijing dan Manila terus memanas dalam beberapa tahun terakhir setelah Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengambil sikap yang lebih tegas terkait Laut China Selatan, sekaligus mempererat kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat serta memperluas hubungan keamanan dengan Australia dan Jepang.

Dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn pada Selasa, Wang Yi menuduh sebagian unsur aparat keamanan Filipina sengaja memicu provokasi dan menciptakan insiden di Laut China Selatan.

Menurut pernyataan pemerintah China, Wang mengatakan tindakan tersebut menguntungkan "kekuatan eksternal" dan menegaskan bahwa sengketa Laut China Selatan seharusnya tidak menjadi penghambat hubungan China dengan ASEAN.

Ia juga menyatakan Beijing siap bekerja sama dengan ASEAN untuk menghilangkan berbagai "faktor pengganggu" dalam hubungan kedua pihak.

Baca Juga: Bursa Australia Menguat Rabu (22/7), Ditopang Saham Tambang dan Energi

Selain negara-negara ASEAN, pertemuan di Manila juga dihadiri oleh Australia, Rusia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Inggris, Uni Eropa, dan India.

Sejumlah analis menilai pertemuan Rubio dan Wang Yi kemungkinan besar akan difokuskan pada persiapan pertemuan kedua antara Trump dan Xi Jinping, setelah keduanya bertemu pada Mei lalu.

Trump sebelumnya mengatakan Xi akan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat pada akhir September, sementara Rubio pada Minggu menegaskan bahwa rencana penyelenggaraan KTT tersebut masih sesuai jadwal.