KONTAN.CO.ID - Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke Israel pada Senin (30/3/2026), sembari menegaskan akan “menghukum agresor”. Serangan ini terjadi di tengah gempuran militer Israel ke Teheran serta meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Militer Israel menyatakan telah mencegat dua drone yang diluncurkan dari Yaman.
Baca Juga: Spanyol Resmi Tutup Wilayah Udara untuk Pesawat Militer AS, Tegas Tolak Perang Iran Serangan tersebut dilakukan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran, menandai keterlibatan mereka dalam konflik yang sebelumnya dipicu oleh perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Di sisi lain, Israel mengklaim tengah menargetkan infrastruktur militer di Teheran. Serangan juga dilaporkan menyasar fasilitas di Beirut yang digunakan oleh kelompok Hezbollah. Kelompok tersebut juga disebut kembali meluncurkan roket ke wilayah Israel. Presiden Donald Trump sebelumnya menyebut AS dan Iran telah melakukan komunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ia bahkan menilai kepemimpinan baru Iran, setelah tewasnya pemimpin tertinggi sebelumnya bersikap “cukup rasional”.
Baca Juga: Krisis Energi Sri Lanka: Tarif Listrik Kembali Naik Imbas Perang Iran Meski demikian, Washington tetap meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Hal ini memicu tudingan dari parlemen Iran bahwa AS mengirim sinyal negosiasi sembari mempersiapkan kemungkinan invasi darat. Menteri Pertahanan sementara Iran Majid Ebn-e Reza menegaskan, negaranya akan terus membalas serangan demi menciptakan efek jera dan mencegah konflik serupa terulang di masa depan. Konflik yang telah berlangsung selama sebulan ini kini meluas ke berbagai negara di kawasan, menelan ribuan korban jiwa, serta memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global. Harga minyak dunia pun terus melonjak, dengan harga minyak Brent naik sekitar 2,8% mendekati US$116 per barel.
Baca Juga: Asia Dihantam Double Shock: Energi Mahal, Mata Uang Tertekan Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran turut memperparah tekanan pasar energi global. Jalur ini merupakan rute penting yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Keterlibatan Houthi juga memunculkan risiko gangguan pada jalur pelayaran strategis lainnya, yakni Selat Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Di tengah eskalasi ini, Pakistan disebut tengah mempersiapkan pembicaraan untuk meredakan konflik, meski belum jelas apakah AS dan Iran akan ikut serta dalam negosiasi tersebut. Sementara itu, serangan udara intensif yang dilakukan AS dan Israel belum berhasil melumpuhkan kemampuan militer Iran, termasuk sistem rudal dan drone.
Iran juga telah mengganti sejumlah pejabat tinggi yang tewas dalam serangan sebelumnya.
Baca Juga: Morgan Stanley Pangkas Peringkat Saham Global Dampak konflik juga meluas ke negara lain. Kuwait dilaporkan mencegat lima drone di wilayahnya, sementara Irak menyebut salah satu pangkalan udara di dekat Bandara Internasional Baghdad terkena serangan roket. Secara keseluruhan, konflik ini telah menewaskan ribuan orang di berbagai negara, termasuk warga sipil, serta meningkatkan risiko krisis ekonomi global akibat lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan.