Rugi PT PP (PTPP) Bengkak ke Rp 6,07 Triliun Sepanjang 2025, Ini Pemicunya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT PP Tbk (PTPP) tertekan sepanjang 2025. Perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp 6,07 triliun, melonjak 298,99% dibandingkan rugi Rp 1,52 triliun pada 2024.

Pembengkakan rugi ini sejalan dengan penurunan pendapatan usaha. Sepanjang 2025, PTPP membukukan pendapatan Rp 16,27 triliun, turun 17,87% dari Rp 19,81 triliun pada tahun sebelumnya.

Kontribusi terbesar masih berasal dari segmen jasa konstruksi senilai Rp 13,51 triliun. Sementara itu, segmen EPC menyumbang Rp 1,15 triliun, properti dan realti Rp 774,5 miliar, serta pendapatan keuangan dari konstruksi aset konsesi Rp 399,96 miliar. 


Sisanya berasal dari berbagai lini seperti persewaan peralatan, energi, jalan tol, hingga jasa pertambangan.

Baca Juga: PT PP (PTPP) Kantongi Nilai Kontrak Baru Rp 16,88 Triliun per Kuartal III 2025

Meski beban pokok pendapatan turun menjadi Rp 14,81 triliun dari Rp 17,17 triliun, laba kotor tetap tergerus dalam, hanya mencapai Rp 1,45 triliun atau turun 44,59% secara tahunan.

Tekanan terbesar datang dari lonjakan tajam beban non-operasional, terutama kerugian penurunan nilai (impairment) yang melonjak drastis dari Rp 356,26 miliar menjadi Rp 7,35 triliun. Selain itu, beban keuangan juga meningkat menjadi Rp 2,13 triliun dari Rp 1,89 triliun.

Dampaknya, rugi per saham dasar ikut membengkak menjadi Rp 982, dari sebelumnya Rp 246.

Dari sisi neraca, total aset PTPP menyusut menjadi Rp 42,98 triliun per akhir 2025, turun dari Rp 54,53 triliun pada 2024. Liabilitas juga turun menjadi Rp 38,67 triliun, sementara ekuitas anjlok signifikan menjadi Rp 4,30 triliun dari Rp 12,38 triliun. Saldo kas dan setara kas tercatat Rp 2,89 triliun, turun dari Rp 4,18 triliun.

Baca Juga: PT PP (PTPP) Catat Nilai Kontrak Baru Rp 2,76 Triliun per Januari 2026

Sekretaris Perusahaan PTPP, Joko Raharjo, menjelaskan bahwa tekanan kinerja terutama dipicu langkah kehati-hatian perusahaan melalui pengakuan penurunan nilai aset, pembentukan cadangan kerugian piutang, serta penyesuaian nilai persediaan.

“Langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat fundamental keuangan perseroan dalam jangka panjang,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).

Menurutnya, kebijakan tersebut memang membebani kinerja jangka pendek, namun dilakukan untuk memperbaiki kualitas aset, memperkuat tata kelola, dan menyesuaikan dengan dinamika industri konstruksi.

 
PTPP Chart by TradingView

Langkah ini juga sejalan dengan arah restrukturisasi BUMN, termasuk inisiatif integrasi BUMN Karya guna memperkuat struktur industri dan stabilitas keuangan sektor konstruksi nasional.

Ke depan, PTPP menyiapkan sejumlah strategi pemulihan. Perseroan akan fokus pada bisnis inti konstruksi, melakukan divestasi aset non-strategis, serta memperkuat arus kas melalui percepatan pencairan piutang.

Baca Juga: PT PP (PTPP) Dapat Rating idBBB+ dengan Outlook Negatif dari Pefindo

Selain itu, PTPP juga akan aktif memburu proyek-proyek strategis dari pemerintah, BUMN, maupun sektor swasta, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.

Dengan langkah tersebut, manajemen optimistis kinerja dan posisi keuangan perseroan dapat membaik secara bertahap dan berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News