KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk (
WIKA) mencatatkan perbaikan kinerja sepanjang periode Januari-September 2026. Rugi bersih WIKA turun 52,23% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 1,53 triliun. Perbaikan laba bersih dimulai dari peningkatan penjualan pada kuartal III 2026 sebesar 11,9% YoY menjadi Rp 15,80 triliun.
Penjualan ini terdiri dari penjualan pada proyek non Kerja Sama Operasi (non KSO) sebesar Rp 9,04 triliun dan penjualan pada proyek KSO sebesar Rp 6,77 triliun. Raihan kontrak baru WIKA hingga kuartal III 2026 naik sebesar 57,9% YoY, menjadi Rp 9,78 triliun.
Baca Juga: Gelar RUPST, Ini Susunan Baru Direksi dan Komisaris Wijaya Karya (WIKA) Ngatemin alias Emin, Corporate Secretary WIKA mengatakan, capaian ini didukung dengan upaya transformasi dan penyehatan yang telah secara konsisten dijalankan sejak tahun 2023. “Perseroan terus melakukan perolehan kontrak baru dengan menerapkan project selection secara ketat berbasis four eyes principle dengan pola pembayaran uang muka dan pembayaran progres bulanan,” ujarnya dalam keterangan resmi tanggal 30 Oktober 2026. Laba kotor sebesar Rp 1,09 triliun meningkat 44,4% YoY dengan margin sebesar 12,11%, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 8,34%. Beban umum dan administrasi WIKA turun tipis dari Rp 865,78 miliar ke Rp 833,19 miliar per kuartal III 2026. Beban lain-lain turun dari Rp 1,07 triliun menjadi Rp 245,08 miliar di periode ini.
WIKA mencatatkan laba usaha sebesar Rp 754,33 miliar meningkat 162,1% YoY, dengan EBITDA core operasi di luar penyertaan pada investasi kereta sebesar Rp 957,84 miliar meningkat 148,4% YoY.
Baca Juga: Progres 28,5%, Wijaya Karya (WIKA) Targetkan Reservoir DC Semanan Rampung Juli 2027 Operating Expense Ratio juga menurun menjadi 5,34% pada kuartal 3 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Beban keuangan masih naik ke Rp 2,1 triliun dari Rp 2,09 triliun di Oktober 2025. Namun, beban pajak penghasilan final turun ke Rp 165,86 miliar di akhir September 2026, dari Rp 172,11 miliar. WIKA juga mencatat bagian rugi entitas asosiasi sebesar Rp 69,53 miliar per September 2026, turun dari Rp 91,72 miliar. Bagian rugi pengendalian bersama turun dari Rp 1,1 triliun menjadi Rp 279,55 miliar. “Ke depan, perseroan akan terus menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat profitabilitas secara berkelanjutan guna menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan,” paparnya. Dari sisi finansial, total utang WIKA menurun sebesar Rp 1,42 triliun, terdiri dari utang berbunga menurun Rp 505 miliar dan utang usaha menurun Rp 914,54 miliar pada kuartal III 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Terkait masalah KCIC, WIKA masih memiliki
cost overrun sebesar Rp 5,01 triliun di proyek kereta cepat Whoosh. Pada tanggal 31 Desember 2024, perusahaan mendaftarkan klaim PDPK KSO WIKA-CRIC-CRDC-CREC-CRSC atas proyek High Speed Railway Jakarta Bandung milik PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC, pihak berelasi) sebesar Rp5.019.142.049 yang merupakan klaim atas cost overrun ke Singapore International Arbitration Centre (SIAC). Pada tanggal 30 Januari 2026, WIKA dan KCIC mengajukan permohonan mediasi dalam rangka penyelesaian perselisihan tersebut ke Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun).
Baca Juga: Menanti Kinerja Wijaya Karya (WIKA) Kala Tren Pemulihan Margin BUMN Karya Hingga laporan keuangan konsolidasian diterbitkan, belum ada tanggapan dari Jamdatun terkait permohonan yang diajukan Perusahaan dan proses di SIAC masih disuspensi. Per 30 September 2026, WIKA punya jumlah aset Rp 49 triliun. Ini turun dari Rp 50,14 triliun per 31 Desember 2025. Jumlah liabilitas perseroan sebesar Rp 48,95 triliun di akhir September 2026, naik tipis dari Rp 48,46 triliun di akhir Desember 2025. Sementara, total ekuitas tercatat Rp 50,45 miliar per akhir September 2026, amblas dari Rp 1,68 triliun di akhir tahun 2025. Defisit tercatat Rp 20,82 triliun per September 2026, naik dari Rp 19,29 triliun per Desember 2025. WIKA memiliki kas dan setara kas akhir periode sebesar Rp 1,82 triliun di akhir September 2026, naik dari Rp 1,54 triliun di periode sama tahun lalu. Namun, kas bersih digunakan untuk aktivitas operasi masih minus Rp 647,08 miliar. Atas berbagai upaya transformasi dan penyehatan yang telah dilakukan, WIKA mengaku membutuhkan dukungan dari seluruh pihak baik pemegang saham, kreditur, regulator dan publik untuk penguatan keuangan.
Baca Juga: Kontrak Baru Wijaya Karya (WIKA) Capai Rp 2,53 Triliun di Kuartal I-2026 Dukungan ini dibutuhkan untuk melakukan restrukturisasi komprehensif, serta pengembalian modal dan divestasi pada proyek penugasan kereta cepat, sehingga perseroan dapat menurunkan beban bunga dan beban kerugian atas penugasan tersebut. “Selain itu pengembalian modal tersebut juga akan dapat digunakan perseroan untuk pembayaran kreditur, baik bank dan surat utang (obligasi dan sukuk), yang mana pemegang surat utang tersebut terdiri dari 206 perorangan, 88 lembaga dana pensiun dan 154 lembaga keuangan,” katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News