KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (
EXCL) meraih kenaikan pendapatan di sepanjang periode semester I-2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026, EXCL mencatatkan pendapatan sebesar Rp 23,99 triliun, tumbuh 25,7% dibandingkan Rp 19,09 triliun pada semester I 2025. Sementara itu, dari sisi bottom line, perusahaan membukukan kerugian bersih sebesar Rp 994,15 miliar per semester I-2026. Perolehan itu menyusut dari rugi bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,22 triliun.
Baca Juga: Kinerja Prodia (PRDA) & Proline (PRDL) Berbeda, Ini Prospeknya pada Semester II-2026 Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan pertumbuhan pendapatan sebesar 25,7% secara tahunan kemungkinan besar lebih didorong oleh konsolidasi merger dengan Tri, ketimbang pertumbuhan organik murni. "Sementara, kerugian yang menyusut dari Rp 1,22 triliun ke Rp 994,15 miliar menunjukkan operating leverage mulai membaik. Revenue
scale up dari merger mulai
partially offset integration cost," kata Wafi kepada Kontan, Rabu (12/8/2026). Menurut Wafi, pola tersebut merupakan hal yang lazim terjadi pada aksi merger dan akuisisi di sektor telekomunikasi, di mana lonjakan pendapatan signifikan dari konsolidasi biasanya muncul lebih dulu, sementara sinergi biaya membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar tercermin secara positif pada bottom line. Secara terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menerangkan penyusutan rugi EXCL menunjukkan adanya perbaikan fundamental pascamerger dengan Smartfren. Pendapatan tumbuh signifikan seiring peningkatan mobile revenue dan Average Revenue Per User, ditambah mulai terealisasinya merger synergies serta efisiensi biaya. "Namun, beban depresiasi, amortisasi dan biaya terkait integrasi masih cukup besar sehingga perusahaan belum berbalik menjadi laba bersih," ujar Elandry.
Prospek EXCL ke Depan
Wafi menyebut, jika pola perbaikan kerugian ini berlanjut secara konsisten, terdapat kemungkinan realistis bagi EXCL untuk mendekati titik impas (breakeven) dalam beberapa kuartal ke depan. Meski begitu, ia menekankan hal tersebut masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut. Tambahan spektrum sebesar 32,6% dinilai memberikan kapasitas yang dibutuhkan XLSmart untuk menstabilkan kualitas jaringan pasca-merger, yang menjadi faktor krusial bagi retensi pelanggan.
Baca Juga: Harga Emas Tembus di Atas US$ 4.400, Investor Disarankan Tak Beli Sekaligus Di sisi lain, sejumlah risiko masih membayangi kinerja perusahaan ke depan, di antaranya biaya integrasi jaringan Tri yang masih berlangsung, persaingan dari Telkomsel yang masih dominan di pasar serta putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait kuota data yang tidak boleh hangus, yang dinilai lebih berisiko bagi EXCL dibandingkan TLKM karena basis pelanggan prabayar EXCL yang lebih besar. Lebih lanjut, Wafi menilai tren perbaikan kinerja pada semester I-2026 menjadi sinyal positif bagi narasi turnaround jangka panjang perseroan. Namun, ia menegaskan masih terlalu dini untuk menyatakan telah terjadi titik balik (inflection point) tanpa konfirmasi dari 2-3 kuartal berikutnya yang konsisten.
Sejumlah sentimen yang perlu terus dipantau ke depan antara lain perbaikan margin berlanjut pada kuartal III dan IV 2026, realisasi sinergi biaya dari integrasi Tri, serta dampak tambahan spektrum terhadap kualitas jaringan dan retensi pelanggan. Adapun Elandry melihat untuk semester II-2026, prospek EXCL cenderung lebih positif. Jika integrasi XL-Smartfren terus berjalan sesuai rencana, sinergi biaya dan peningkatan skala bisnis dapat mendorong perbaikan EBITDA dan margin. "Tantangannya tetap pada besarnya beban depresiasi serta kebutuhan capex. Jadi, saya melihat katalis utama EXCL ke depan adalah realisasi merger synergies dan perbaikan
cash flow, dengan
market sentiment akan sangat bergantung pada seberapa cepat perusahaan bisa menuju profitabilitas," ujar Elandry, Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News