Rukun Raharja (RAJA) Siapkan Lima Proyek Strategis, Bidik Ekspansi Bisnis Energi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) menyiapkan lima inisiatif strategis untuk memperkuat bisnis energi dan membuka sumber pertumbuhan baru dalam jangka panjang. Pengembangan proyek tersebut mencakup bisnis LNG, transportasi energi, infrastruktur distribusi, hingga energi terbarukan.

Direktur Utama RAJA Djauhar Maulidi mengatakan, pengembangan sejumlah proyek tersebut menjadi bagian dari peta jalan pertumbuhan RAJA yang dilakukan secara bertahap.

“Arah pertumbuhan kami jelas: memperkuat bisnis yang telah kami kuasai, memperluas peran dalam rantai nilai energi, serta mempersiapkan langkah menuju energi terbarukan. Melalui investasi di proyek FLNG dan rencana akuisisi perusahaan pelayaran, kami memperluas portofolio usaha dan membangun sumber pendapatan baru bagi Perseroan. Kelima proyek ini kami jalankan secara bertahap sebagai bagian dari peta jalan pertumbuhan jangka panjang RAJA,” ujar Djauhar dalam public expose secara daring, Kamis (10/9/2026).


Baca Juga: Investor Asing Bidik Surat Utang Indonesia Berbekal Yield Tinggi

Salah satu langkah yang telah direalisasikan adalah investasi pada proyek floating LNG atau FLNG pertama di Indonesia melalui akuisisi 5% saham PT Layar Nusantara Gas, anak perusahaan Grup Genting. Transaksi tersebut dirampungkan pada 4 September 2026 melalui anak usaha RAJA, PT Raharja Gas Kasuri.

Fasilitas FLNG tersebut dirancang memiliki kapasitas 1,2 juta ton per tahun dengan pasokan gas dari Blok Kasuri. Menurut Djauhar, investasi tersebut sejalan dengan strategi RAJA untuk memperluas bisnis di sektor midstream, khususnya infrastruktur LNG.

“Di sektor midstream kami mempunyai visi untuk mengembangkan infrastruktur kami di LNG dan ini adalah merupakan salah satu upaya kami untuk masuk ke infrastruktur LNG. Dan juga ini merupakan proyek pertama FLNG di Indonesia,” kata Djauhar.

Meski demikian, RAJA belum memastikan penambahan kepemilikan pada aset FLNG tersebut. Djauhar mengatakan perseroan akan terlebih dahulu meningkatkan pengetahuan dan pengalaman atau know-how sebelum memutuskan apakah akan menambah porsi kepemilikan.

Di sisi lain, RAJA juga tengah memfinalisasi rencana akuisisi perusahaan pelayaran yang memiliki satu unit LNG Carrier dan satu unit Very Large Gas Carrier. Transaksi tersebut ditargetkan rampung pada Oktober 2026.

Direktur RAJA Praba Diwangkara Caraka Putra Soma mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya perseroan membangun ekosistem bisnis energi yang lebih terintegrasi, terutama pada rantai bisnis LNG.

 
RAJA Chart by TradingView

“Akuisisi dari FLNG ini merupakan satu rencana ke depan dari Rukun Raharja untuk memperlebar ekosistem dari bisnis energi kami. Terutama dalam hal ini adalah LNG, di mana kami bisa memiliki bisnis trading gas, dan juga ini adalah pengembangan menuju LNG, di mana FLNG ini adalah satu awal dari ekosistem kami,” ujar Praba.

Praba menambahkan bahwa akuisisi LNG carrier dan gas carrier nantinya akan memperkuat integrasi bisnis midstream RAJA.

Selain LNG dan transportasi energi, RAJA mengembangkan proyek pipa bahan bakar minyak atau BBM sepanjang 117,5 kilometer di Kalimantan Timur melalui PT Petrotech Penta Nusa. Proyek tersebut telah didukung oleh kontrak selama 10 tahun.

Konstruksi proyek pipa BBM tersebut dimulai pada kuartal III 2026, dengan target operasi komersial pada kuartal IV 2027.

RAJA juga masih menyelesaikan kajian lanjutan proyek pabrik LNG di Kalimantan. Kajian tersebut menjadi dasar pengambilan keputusan investasi final, dengan target operasi pada kuartal IV 2029.

Sementara itu, untuk masuk ke bisnis energi terbarukan, RAJA bersama mitra asal Jepang, Tokyo Gas, tengah mengkaji kelayakan investasi pabrik biogas berbasis limbah peternakan di Indonesia. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I 2028.

Dari sisi pendanaan, Djauhar mengatakan kebutuhan investasi untuk sejumlah proyek yang telah dapat diungkapkan mencapai sekitar US$150 juta. Khusus untuk akuisisi 5% saham PT Layar Nusantara Gas, RAJA membutuhkan dana sekitar US$ 46 juta.

“Untuk proyek Genting, kami membutuhkan dana sekitar US$ 46 juta untuk mengakuisisi 5% saham PT LNG. Dan untuk dua proyek berikutnya, keseluruhan dana, termasuk yang untuk FLNG, akan membutuhkan dana sekitar US$ 150 juta,” kata Djauhar.

Untuk memenuhi kebutuhan investasi tersebut, RAJA akan mengombinasikan pendanaan internal dan eksternal. Skema pendanaan akan disesuaikan dengan karakteristik serta arus kas dari masing-masing proyek.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Volatil pada Jumat (11/9), Analis Cermati CPI AS dan Konflik AS-Iran

Menurut Praba, ekspansi ke bisnis pelayaran juga memiliki tujuan untuk memperkuat bisnis midstream RAJA. Bisnis tersebut menjadi salah satu mata rantai yang dapat mendukung pengembangan ekosistem energi perseroan.

“Kita juga mengetahui bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dan transportasi di antara pulau-pulau membutuhkan banyak kapal untuk transportasi bahan bakar,” ujar Praba.

RAJA menempatkan seluruh inisiatif tersebut sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bertahap. RAJA akan memperkuat bisnis inti, memperluas usaha terkait mulai 2027, serta mengembangkan bisnis baru mulai 2029.

Dengan strategi tersebut, RAJA menargetkan dapat memperluas portofolio usaha dari bisnis energi yang telah dimiliki saat ini menuju rantai nilai yang lebih terintegrasi, sekaligus mulai membangun eksposur pada energi transisi dan energi terbarukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News