Rumor Manajemen Lama Jadi Sorotan Investigasi, TLKM Tegaskan Fundamental Tetap Sehat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah tekanan pasar saham domestik yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi delapan hari perdagangan beruntun, sejumlah saham big caps masih menjadi perhatian investor. Salah satunya saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

Nah, sentimen pasar terhadap emiten pelat merah ini sempat dibayangi investigasi otoritas Amerika Serikat (AS) terkait laporan keuangan periode lama dan langkah restatement yang laporan keuangan. 

Namun TLKM menegaskan, investigasi US Securities and Exchange Commission (SEC) terkait laporan keuangan di periode sebelumnya, diklaim tidak memengaruhi fundamental bisnis maupun kemampuan BUMN itu membayar dividen. Manajemen menyebut, persoalan yang diselidiki SEC itu merupakan legacy issue yang terjadi tahun 2014–2018. Jadi, bukan masalah operasional Telkom saat ini.


Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini memaparkan, langkah restatement dan disclosure justru menjadi bagian dari upaya pembenahan tata kelola dan peningkatan transparansi perusahaan. "Seluruh potensi kewajiban terkait kasus lama tersebut juga telah diprovisi penuh sehingga tidak lagi berdampak terhadap laba rugi maupun arus kas. Justru ini bagian dari governance reset supaya buku kami lebih bersih dan lebih transparan," tegas Dian, Rabu (20/5). 

Telkom justru mencatat kenaikan operating cash flow (OCF). Arus kas operasional meningkat dari Rp 61,6 triliun pada 2024 menjadi Rp 63,8 triliun pada 2025, ditopang efisiensi belanja dan disiplin pengelolaan investasi.Kekuatan arus kas menjadi dasar perusahaan tetap menjaga pembagian dividen dan menjalankan buyback saham.

Menurut Dian, langkah korektif Telkom melalui penyampaian form 6-K dan form 6-K/A kepada SEC merupakan bagian upaya memperbaiki tata kelola perusahaan sekaligus meningkatkan kualitas pengungkapan laporan keuangan.

Baca Juga: Terjerembab Di Saham Gocap, Inilah Deretan Investor Pemilik Saham GOTO Per April 2026

Penyesuaian kebijakan akuntansi terutama terhadap masa manfaat aset jaringan seperti drop cable dan last-mile network, dari sebelumnya 25 tahun menjadi 5 tahun–10 tahun. Kebijakan ini menyebabkan depresiasi meningkat dan laba bersih 2023–2024 terkoreksi turun. Tapi tidak memengaruhi cash flow karena bersifat non-cash item.

Dikutip dari presentasi TLKM dan Info Memo tanggal 12 Mei lali, penyajian ulang laporan keuangan (restatement), laba bersih 2023 direvisi turun Rp 1,4 triliun dari sekitar Rp 24,6 triliun menjadi Rp 23,2 triliun. Sedangkan laba bersih 2024 melorot Rp 1,2 triliun, dari Rp 23,6 triliun menjadi Rp22,4 triliun.

Sementara laba ditahan 2023 terkoreksi sekitar Rp 7 triliun menjadi Rp 96,1 triliun dari Rp 103,1 triliun. Sedangkan laba ditahan 2024 turun Rp 8,3 triliiun dari Rp 109,6 triliun menjadi Rp 101,3 triliun. 

Investigasi SEC terhadap Telkom bermula sejak Oktober 2023 dan mencakup sejumlah isu. Mulai keterlibatan anak usaha dalam proyek BTS 4G BAKTI Kominfo, pengakuan pendapatan, efektivitas internal control over financial reporting (ICFR), hingga dugaan transaksi lama yang dinilai kurang memiliki substansi ekonomi.

Berdasarkan investigasi internal bersama konsultan forensik eksternal, ditemukan sekitar 140 transaksi periode 2014–2021, terutama di segmen enterprise business pada 2016–2019. Nilai pendapatan yang ditinjau mencapai sekitar US$ 324 juta. Jika dirupiahkan dengan kurs Rp 17.600 per dolar AS, itu setara Rp 5,7 triliun, 

Selain SEC, Departemen Kehakiman juga melakukan penyelidikan paralel terkait kemungkinan pelanggaran Foreign Corrupt Practices Act (FCPA). Selain governance reset, TLKM membentuk Direktorat Legal and Compliance baru serta menunjuk chief integrity officer untuk memperketat pengawasan internal. Nah, rumor yang beredar ke Kontan, ada beberapa manajemen lama TLKM menjadi sorotan karena dianggap bertanggungjawab atas segala permasalahan yang terjadi di masa lalu itu. Kita tunggu saja hasil penyelidikan SEC.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News