Rupiah Ambruk ke Level Terburuk, Ekonom Soroti Lonjakan Risk Premium Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan. Tak tanggung-tanggung, pada Selasa (7/4) rupiah sempat merosot ke level terburuk sepanjang masa, yakni tembus Rp 17.105 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan.

Pelemahan ini dinilai tidak semata dipengaruhi faktor global, melainkan juga mencerminkan meningkatnya risiko domestik.

Pasalnya, kondisi ini terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS (DXY). Padahal, biasanya pelemahan DXY diikuti dengan penguatan mata uang emerging markets, termasuk Indonesia.


Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, mengungkapkan bahwa depresiasi rupiah yang menembus level Rp 17.000 per dolar AS menunjukkan adanya kenaikan risk premium Indonesia. 

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun di Bawah US$100, Tekanan Inflasi Global Mulai Mereda

Ia menjelaskan, salah satu faktor utama berasal dari lonjakan harga minyak dunia yang memperburuk posisi Indonesia sebagai negara net importir energi. 

Kondisi ini berdampak pada pelebaran defisit transaksi berjalan dan meningkatkan kebutuhan dolar AS.

"Ditambah faktor domestik seperti penurunan cadangan devisa dan kekhawatiran pasar terhadap kebutuhan pembiayaan fiskal," ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).

Perlu diketahui Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia sebesar US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026. Angka tersebut melorot dibanding posisi di akhir Februari 2026 yakni sebesar US$ 151,9 miliar.

BI pun sejatinya telah menempuh berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah dan menghindari gejolak yang berlebihan, yakni melalui penahanan BI-Rate di 4,75%, intervensi di pasar NDF offshore, pasar spot, dan DNDF, pembelian SBN di pasar sekunder, serta operasi moneter yang lebih pro-pasar untuk menjaga likuiditas dan menarik aliran modal masuk.

Baca Juga: Sembilan Saham Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Cek Rekomendasi Analis

Menurut Rizal, langkah BI melalui intervensi pasar sejauh ini sudah tepat, namun belum cukup kuat untuk membalikkan arah pelemahan rupiah.

“Operasi pasar yang dilakukan BI hanya meredam volatilitas, bukan membalikkan tren pelemahan,” tegasnya.

Oleh karena itu, Rizal menilai BI perlu mempertimbangkan langkah tambahan, seperti pengetatan kebijakan moneter, memperkuat insentif masuknya devisa, serta memastikan bauran kebijakan (policy mix) yang lebih kredibel guna menurunkan persepsi risiko investor terhadap Indonesia.

Per hari ini, Rabu (8/4) rupiah ditutup menguat namun masih bertengger di atas level Rp 17.000, atau menguat 0,55% dari sehari sebelumnya menjadi Rp 17.012 per dolar AS.

Ke depan, prospek rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif. Dalam jangka pendek, Rizal memperkirakan rupiah akan berada di kisaran Rp 16.700 hingga Rp 17.400 per dolar AS.

Namun, dalam skenario tekanan yang lebih berat, nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga ke level Rp 17.500 - Rp 17.800 per dolar AS.

Terakhir Rizal menegaskan, kunci stabilisasi rupiah tidak hanya bergantung pada intervensi jangka pendek, tetapi juga pada kemampuan otoritas dalam menurunkan risk premium Indonesia, terutama melalui perbaikan stabilitas eksternal dan peningkatan kredibilitas kebijakan ekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News