KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah dicermati semakin liar. Nilai tukar mata uang Garuda bahkan menembus level terburuk sepanjang masa di kisaran Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini berpotensi menimbulkan tekanan serius di pasar keuangan domestik. Kamis (23/4/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.286 per dolar AS. Ini membuat rupiah melemah 0,61% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.181 per dolar AS. Jika dilihat pergerakan
intraday-nya, pada pukul 09.35 WIB pagi tadi, rupiah sempat menyentuh ke level Rp 17.312 per dolar AS.
Baca Juga: Nilai Transaksi Kripto Terus Meningkat, Penguatan Lintas Ekosistem Kian Mendesak Pakar Ekonomi Ferry Latuhihin memperingatkan, tekanan terhadap rupiah dapat berdampak langsung pada pasar obligasi dan saham. Ia menjelaskan, jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, yield obligasi pemerintah berpotensi melonjak signifikan. Saat ini yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun sudah di level 6,7% meningkat dibandingkan awal tahun yang di kisaran 6,0%. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga berisiko terkoreksi dalam. "(Jika rupiah) Berpotensi tembus Rp 22.000 per dolar AS di semester II-2026. Yield obligasi pemerintah bisa naik ke atas 8% dan IHSG bisa ambruk ke 5.000-an," jelas Ferry saat dihubungi Kontan, Kamis (22/4/2026). Sebetulnya, Bank Indonesia (BI) sudah banyak mengambil langkah untuk menstabilkan rupiah. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI tanggal 21-22 April kemarin, diputuskan suku bunga acuan ditahan di level 4,75%. BI juga melakukan intervensi di pasar
off-shore melalui NDF dan intervensi di pasar domestik melalui pasar spot, DNDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder, didukung dengan penguatan kebijakan transaksi pasar valas. Tapi Ferry menilai ruang gerak otoritas moneter untuk menahan pelemahan rupiah saat ini sangat terbatas.
Baca Juga: Tingkatkan Kapasitas Produksi, Simak Rekomendasi Saham Indah Kiat (INKP) "Menaikkan bunga itu menambah beban ekonomi dan tidak bisa menekan inflasi yang berasal dari
supply shock. Namanya
cost push inflation. Menurunkan suku bunga bisa bikin dolar malah terbang tambah tinggi," imbuh Ferry. Sementara itu, Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky berpandangan jika BI berada dalam posisi yang sulit. Menurutnya, suku bunga acuan saat ini sudah tertinggal dari dinamika pasar (
behind the curve), sementara intervensi di pasar valas dinilai belum cukup efektif menahan tekanan. "Pasar makin melihat BI semakin terperangkap di kebijakan intervensi di pasar spot dan NDF, maka ini semakin menyulitkan jika pasar juga bertarung dengan BI," tandas Yanuar. Kalau kata Yanuar, pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh kombinasi ekspektasi inflasi yang meningkat dan posisi Indonesia sebagai negara net importir. Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar cenderung melakukan lindung nilai (
hedging) dengan mengalihkan dana dari rupiah ke valuta asing. "Kalau BI rate tidak naik sementara ekspektasi inflasi sudah naik, maka pelaku pasar akan menukar tabungan rupiah ke valas. Itu yang membuat rupiah terus melemah,” ujarnya. Yanuar menambahkan, pelemahan rupiah sebenarnya sudah terjadi sebelum memanasnya konflik di Selat Hormuz. Hal ini nampak juga dari semakin melebarnya selisih antara suku bunga acuan BI dengan yield SBN 10 tahun yang mencerminkan ketidakseimbangan di pasar. Hal ini menunjukkan bahwa faktor domestik, khususnya ekspektasi inflasi dan tekanan fiskal, menjadi pendorong utama. Sementara BI secara politik dinilainya tidak cukup independen untuk mengambil langkah yang lebih tegas. Ia menilai meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah melalui penerbitan utang turut menekan nilai aset rupiah. Di sisi lain, konflik geopolitik hanya memperburuk kondisi dengan meningkatkan permintaan dolar AS, terutama dari kebutuhan pembiayaan energi oleh BUMN seperti Pertamina dan PLN. Jika dibanding-bandingkan, pergerakan rupiah masih tertinggal dibandingkan mayoritas mata uang kawasan. Melansir Bloomberg, rupiah hari ini tercatat melemah paling dalam secara bulanan dibanding negara Asia lain, yakni melemah sekitar 1,67% MoM dan 3,50% (Ytd). Ringgit Malaysia justru masih menguat sekitar 2,39% YtD, diikuti yuan China yang naik 2,25% dan CNH sebesar 2,03%. Dolar Singapura juga masih mencatat penguatan sekitar 0,63% sepanjang tahun berjalan. Di sisi lain, beberapa mata uang memang sama-sama tertekan, seperti baht Thailand yang melemah sekitar 2,98% YtD dan won Korea Selatan sekitar 2,57%. Bahkan dibandingkan mata uang
emerging lainnya seperti peso Filipina yang turun 2,55%, rupiah masih menunjukkan kinerja yang lebih lemah. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi pun mengamini, bahwa posisi rupiah saat ini memang paling rapuh dibanding mata uang regional. Ia juga manyebut, pasar membaca level itu sebagai sinyal stres bukan gerak harian biasa.
"Rupiah justru menyentuh high mingguan, bulanan, dan tahunan sekaligus, sehingga pasar membaca tekanan ini sebagai tren yang aktif," jelas Syafruddin. Soal sampai kapan depresiasi berlangsung, Syafruddin menekankan jawabannya bergantung pada tiga hal, yakni arah dolar AS, perkembangan konflik energi global, dan kredibilitas respons kebijakan domestik. Selama tiga faktor itu belum membaik, maka tekanan pada rupiah masih akan bertahan. Namun tetap saja, karena titik baru Rp 17.300 sudah ditembus, rupiah bisa menguji area yang lebih lemah bila sentimen terus memburuk. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News